WHAT IS LOVE Part 2 [3rd Sequel to You’re Crazy and I’m Out Of My Mind]

What is love copy2

Tittle : What Is Love (Part 2)

You’re Crazy and I’m Out of My Mind | Love You, Love You Not | What Is Love Part 1

Starred :

  • Oh Sehun [EXO]
  • Kim Joo Young [OC]

Rated : PG-15

Summary : Kisah mereka tak ayal sebuah drama. Konyol dan penuh ketidakpastian. Dan dia terjebak dalam keraguannya tentang cinta atau bukan cinta.

Disclaimer : I wish Exo is mine 😦 But sadly I only own this story and the whole plot. Anyway, Sehun is my hubby.

Thanks to Zhyagaem06 who has kindly beta read this for me 🙂 Perbaikin tanda-tanda baca yang aku letakin serampangan -_- FF ini jadi lebih rapi ^^

=You’re Crazy and I’m Out of My Mind=

Segala kekacauan dan rasa gelisah itu diawali dengan satu kata pembuka diikuti diskusi singkat yang sia-sia. Tapi berakibat jangka panjang. Seperti  adegan pembuka sebuah drama.

“Hamil?”

Suara dua orang pria —yang jelas-jelas tidak senang dengan kata yang baru saja mereka ucapkan dengan kompak— menggantung di udara. Seperti adegan pembuka dalam drama romance comedy konyol. Keduanya terlihat linglung seolah-olah kata ajaib yang baru saja terucap dari mulut keduanya telah melakukan suatu sulap luar biasa sehingga mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan baik.

Kabar buruknya ini bukan adegan pembuka dan jelas-jelas mereka tidak sedang dalam  drama romance comedy konyol.

Sehun jelas terkejut dan agaknya sedikit belum siap dengan berita yang baru didengar oleh telinganya. Tapi siap tidak siap, berita bodoh itu tetap disambut oleh syaraf sensorik dan diantar dengan kecepatan cahaya menuju otaknya, diproses dalam sinapsis dan kemudian oleh syaraf satunya lagi —yang Sehun tidak tahu namanya dan dia sama sekali tidak peduli— tubuhnya dipaksa untuk memberikan reaksi. Sehun tidak sepenuhnya salah, meskipun reaksi yang ternyata diberikan oleh otaknya yang hebat itu hanya berupa helaan nafas yang terlalu panjang dan  tangannya yang secara naluriah bergerak menuju wajahnya dan mengurut pelipisnya menggunakan jari-jarinya yang panjang.

“Apa maksudmu hyung?” didengarnya Baekhyun yang duduk di seberangnya —paling dekat dengan Joonmyun— bertanya sambil tangannya bergelayutan dilengan pria yang ditanyainya itu.

“Memangnya apa lagi?” ujar Joonmyun, “Aku bilang dia hamil. Yang artinya selama sembilan bulan ke depan perutnya akan membesar secara perlahan karena di dalam perutnya sekarang ada bayi atau yang lebih tepat kita sebut janin karena secara teknis kita tidak menyebutnya bayi jika—oh baiklah, aku tau kalian tidak ingin mendengarnya—jadi yah kalian mengerti, ‘kan? Dia hamil. Akan ada bayi.”

“Tapi bagaimana bisa?” kali ini Sehun yang bertanya, masih dengan tangan diletakkan di kanan kiri tengkorak kepalanya, berusaha menghilangkan migrain yang tiba-tiba menyerang.

“Tentu saja bisa,” Joonmyun memutar bola matanya malas, “Kau yang seharusnya paling tahu bagaimana itu bisa terjadi. Dia setiap malam…”

“Hentikan itu hyung!” potong Sehun segera mencegah Joonmyun membuka mulutnya lebih jauh. Dia bersyukur Joo Yong tidak ada di sini sekarang, mendengarkan lelucon konyol saudara laki-lakinya itu. Keputusan tepat untuk membicarakan ini setelah dia memastikan istrinya itu sudah terlelap nyaman di bawah selimut tadi, “Aku sama sekali tidak igin dengar bagaimana caranya membuat bayi.”

“Ya aku juga, karena itu tidak senonoh untuk dibicarakan dan bisa dikatakan sebagai pornografi.” sahut Baekhyun mendukung perkataan Sehun, “Dan kuharap kau tidak sedang membayangkan tubuh telanjang Joo Young saat kau mengatakan membuat bayi tadi Sehun,” yah dia tetaplah sepupu Joo Young yang menyebalkan.

Sehun mendecak pelan sebelum membalas perkataan pria kecil yang sama sekali tidak disukainya itu, “Apa kau tidak merasa kata-katamu terlalu vulgar untuk membicarakan istriku? Dan maaf saja hyung, tapi kau dan aku tahu kalau itu tidak illegal membayangkan tubuh telanjang  dari wanita yang akan menjadi ibu dari anakku. Jadi sebaiknya kaulah yang tidak membayangkan yang bukan-bukan tentang Joo Young karena kau dan aku tahu kalau aku berhak melarangmu bahkan hanya untuk berbicara dengannya.”

“Hentikan itu, kalian berdua,” Joonmyun kali ini kembali mengambil alih berbicara karena demi Tuhan dia tidak suka mendengar pertengkaran tidak berguna kedua orang ini hanya karena masalah kecil setiap waktu. Wibawa dalam suaranya membuat baik Baekhyun dan Sehun sejenak menutup mulut mereka dan kembali ke topik awal pembicaraan mereka.

“Tapi hyung, bukankah dia mandul dan tidak bisa hamil?” kali ini Baekhyun bertanya kembali pada Joonmyun dan Sehun mengangguk menyetujui pertanyaan Baekhyun yang masuk akal.

“Yeah, awalnya aku mengira dia mandul dan tidak bisa punya anak makanya dia jadi gila. Tapi ternyata kenyataannya sekarang dia sedang hamil, sembilan minggu tepatnya.”

“Kalau begitu teori awalmu tentang penyebab ketidakwarasannya tidak benar hyung,” lagi-lagi Baekhyun memberi komentar berdasarkan asumsinya yang disambut dengan anggukan setuju dari Sehun— pria yang tidak bisa dikatakannya begitu disukainya— dari seberang tempat dia duduk, “Maksudku, bukankah katamu orang tuanya juga mengatakan kalau dia… mandul?” entah kenapa Baekhyun membuat kata ‘mandul’ terdengar sangat dramatis.

“Aku tidak begitu tahu pastinya karena sejauh ini dia sama sekali tidak membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan, dalam keadaan sadar maupun terhipnotis.”

Sehun dan Baekhyun mengangguk-anggukkan kepalanya seraya mendengar Joonmyun bercerita tentang pasien yang belakangan ini sedang ditanganinya. Mereka—dia dan Baekhyun—walaupun tidak begitu tertarik dengan perkembangan satu-satunya pasien yang ditangani Joonmyun selain Joo Young itu, masih tetap setia mendengar Joonmyun bercerita tentang wanita yang tidak mereka kenal itu.

Dan yang dipikirkan oleh Sehun sejak mendengar cerita kehamilan wanita tidak waras itu adalah (1) kalau wanita itu bisa hamil bahkan melahirkan bayi, maka apakah istrinya juga akan bisa hamil dan memberinya keturunan? ; (2) apakah Joo Young akan baik-baik saja selama dia hamil?—kemungkinan terburuknya adalah dia akan berpikir kalau dalam perutnya ada monster—yang membuat perutnya semakin hari semakin buncit dan dia akan segera mati dengan tubuh menggembung ; dan (3) kenapa dia bahkan terpikir tentang hal ini? Memangnya dia siap untuk mempunyai anak kalau pun Joo Young akan bisa memberikannya itu?

Dia tidak begitu yakin apa dia siap dengan kehadiran seorang anak lagi dalam kehidupan pernikahannya. Satu anak saja (baca : Joo Young) sudah cukup menyulitkannya.  Memikirkan seorang perempuan yang mengalami keterbelakangan mental yang sedang hamil membuat sekujur tengkuknya merinding dan Sehun memutuskan itu memang bukan sesuatu yang begitu menyenangkan untuk dibayangkan. Bahkan dia belum memutuskan apakah dia mencintai Joo Young atau tidak, dan pembicaraan tentang anak rasanya terlalu ekstrim untuk dipikirkan sekarang.

.

.

.

Adegan pembuka yang konyol diikuti oleh episode-episode adalah mimpi buruk.

Dia bukan pria sentimentil, tapi senyuman yang dulunya biasa saja entah sejak kapan berubah dan terasa berbeda. Padahal gadis itu masih tetap sama, masih tetap dia yang dulu. Tertawa dan berlarian bebas tanpa mengenal rasa sakit, bergelayutan manja sepanjang waktu dilengannya. Hal yang entah sejak kapan mulai tidak terasa menyebalkan lagi baginya. Tapi kenapa? Gadis itu masih tetap sama, masih tetap idiot yang dikenalnya selama sepuluh tahun.

Gadis itu masih tetap Joo Young dengan pertanyaan konyol dan tingkah kekanak-kanakannya. Seharusnya dia merasa kesal saat melihat gadis itu di atas tempat tidurnya. Seharusnya dia membenci gadis itu yang telah membuatnya terpaksa terpenjara dalam hidup dengannya. Padahal gadis itu tetap sama.

Sehun membuka matanya pagi ini masih dengan pemandangan yang seharusnya sama. Tapi sebenarnya tidak sama. Tapi masih sama. Ah, membingungkan jika harus dijelaskan dengan bahasa yang dapat dengan mudah dimengerti bahkan oleh dirinya sendiri.

Gadis itu—Joo Young—di sampingnya saat bangun tidur. Seperti yang sudah biasa dilihatnya hampir setiap hari setahun belakangan. Yang tidak biasa adalah mata gadis itu terbuka lebar memandanginya, sebelah tangan menopang kepalanya dan dia mengawasi Sehun seperti elang mengawasi anak ayam. Joo Young tidak pernah melakukan hal seperti itu dulu. Sehun sudah terlalu terbiasa untuk bangun dengan gadis itu masih tidur pulas sambil mendengkur di bawah selimut mereka. Makanya saat gadis itu memulai hobi barunya yang aneh untuk bangun terlebih dahulu sebelum Sehun dan memandanginya dengan mata itu, bahkan setelah hampir tiga minggu, Sehun masih belum bisa tidak mengalami serangan jantung ringan di pagi hari. Tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.

Bayangan tentang bayi berkelebat di benaknya begitu saja seperti bisul yang mengganggu dikepalanya. Karena pembicaraannya dengan Joonmyun dan Baekhyun beberapa hari yang lalu.

“Demi Tuhan Joo Young,” erangnya kepada gadis itu. “Tolong berhenti melakukan itu.” Joo Young diam. “Itu menyebalkan.” Joo Young terus menatapnya. “Umurku bisa jadi pendek gara-gara kau,” ujarnya seolah kesal untuk menyembunyikan rasa gugup dan debar gila— bukan debar karena cinta tapi karena ide gila yang melibatkan tentang bayi dan wanita idiot yang tengah hamil sedang menginvansi otaknya—yang begitu terasa di balik piyama tipisnya. Sikap Joo Young yang tidak biasa membuatnya berpikir tentang wanita hamil yang menurut sebuah buku yang dipinjamnya di perpustakaan kota beberapa waktu lalu, mereka suka bersikap aneh dan tidak biasa dan demi Neptunus saat ini sikap Joo Young jauh dari deskripsi biasa bagi Sehun.

Tapi Joo Young hanya tersenyum, senyum idiot itu lagi.

“Tsk.” Sehun menyibak selimutnya kasar dan dengan sengaja melemparnya ke wajah Joo Young, gadis itu terpekik halus. “Dasar aneh!” dan dia berjalan menuju kamar mandinya. Berusaha melindungi otaknya dari bayangan-bayangan tidak menyenangkan. Terima kasih pada Joonmyun yang membuatnya terus memikirkan tentang kehamilan dan bayi semenjak cerita bodoh tentang wanita tidak waras yang sedang hamil itu. Karena sekarang Sehun tidak bisa melihat Joo Young tanpa berpikir tentang bayi—itu menyebalkan sekaligus menyeramkan—dan dia tidak bisa menyentuh Joo Young lagi sejak itu dan dia merasa hampir gila karenanya.

Dia bahkan tidak tahu apakah dia jatuh cinta dengan Joo Young atau tidak, atau apakah sebenarnya Joo Young mencintainya (akhir-akhir ini gagasan itu muncul begitu saja di otaknya dan itu menyebalkan) atau mungkin sebenarnya Joo Young malah mencintai Baekhyun atau jangan-jangan Joo Young bahkan tidak tahu apa itu cinta, dan Sehun merasa lebih kesal saat mengetahui kalau dia tidak begitu suka dengan dua ide yang disebut belakangan.

Jadi Sehun memutuskan untuk pergi saja ke kantor segera dan menyingkirkan pikiran-pikiran bodoh itu dari otaknya, karena begitu banyak pekerjaan yang menunggunya di sana sehingga dia tidak akan sempat memikirkan tentang itu nanti.

.

.

.

Selalu ada aktor pendukung yang cerewet dalam tiap drama komedi dan entah kenapa mereka harus selalu adalah sahabatmu. Konyol.

“Aku sumpah itu adalah wajahmu yang paling bodoh yang pernah kau tunjukkan padaku selama sejarah pertemanan kita.”

Soo Jung sama sekali tidak membantu, dia memang tidak sekalipun membantu. Dengan komentar-komentar sarkastis dan kata-kata pedas ditambah dengan caranya berbicara yang lebih sering membuat Sehun kesal dari pada tidak, Sehun merasa harinya sangatlah buruk dan tidak bisa lebih buruk lagi karena Jung Soo Jung adalah level tertinggi dari bentuk keburukan hari yang dialami Sehun. Selalu begitu.

“Apalagi yang terjadi denganmu?” tanya Soo Jung di sela-sela kunyahannya pada sandwichnya.

Sehun hanya menatap malas dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Soo Jung. Dia tidak akan pernah mau lagi bercerita dengan gadis ini, karena hei, kata-kata yang keluar dari mulut yang seperti nemesis itu selalu tidak masuk akal. Menyebalkannya lagi hal-hal tidak masuk akal itu entah kenapa selalu merasuki kepala Sehun setiap hari sampai-sampai mereka menjadi masuk akal dan kemudian menjadi kebenaran umum di kepala pria itu. Kata-kata wanita itu seperti sugesti yang membuat Sehun harus selalu menyangkal kewarasannya.

Karena kalau memang dia waras, dia bahkan tidak akan berpikir untuk jatuh cinta pada Joo Young, tapi kata-kata wanita di hadapannya ini pastilah sudah melakukan sesuatu yang buruk pada otaknya, sehingga mungkin—Ingat! Hanya mungkin—mungkin saja dia sekarang sedang merasakan apa yang disebut cinta pada gadis retardasi itu, Soo Jung patut mendapat penghargaan untuk itu. Jadi menurut Sehun, membahas tentang keluarganya pada Soo Jung bukan ide yang baik. Tidak pernah ide baik!

Yeah, tentu saja tekad itu hanya akan bertahan selama sepuluh detik.

“Apa menurutmu Joo Young mungkin saja hamil?” tanyanya pelan. Dasar mulut sialan! Selalu tidak pernah mau mengikuti apa keinginan Sehun. Kenapa setiap kali selalu saja berakhir dengan membeberkan segala sesuatu pada gadis ini?

Soo Jung terkesima sejenak, tidak menyangka itu yang sedang dipikirkan oleh Sehun. Dasar random mind. Setelah diam beberapa saat dia hanya berkata “Wow,” dengan ekspresi yang tidak terdeskripsikan, dia hanya tidak menyangka.

“Wow Sehun. Wow,” ulangnya. Dia menatap Sehun dengan tatapan menyebalkan itu. Tenang. Jahat. Terhibur.

“Ugh aku benci kau.”

“Jadi kau mengakui kalau kau jatuh cinta dengan Joo Young?”

“Ap….” Sehun menghela nafas, “Darimana kau dapat ide bodoh itu? Yang kutanyakan dan jawabanmu sangat tidak relevan, dan tidak! Aku tidak jatuh cinta padanya.”

“Mungkin maksudmu relevan,” Soo Jung mengoreksinya, “Tapi memangnya siapa yang peduli? Baiklah. Kalau kau tanya aku, tentu saja mungkin. Itu adalah hal yang paling mungkin di dunia ini mengingat suaminya adalah seorang pria dewasa mesum berumur dua puluh tujuh tahun yang setiap saat memikirkan ingin menyetubuhinya—ups maafkan kata-kataku tapi itu memang kenyataan—padahal dia masih delapan belas tahun. Kasihan dia.” Sehun tidak yakin kata-kata itu tulus atau hanya sarkasme. Bukan karena apa-apa, hanya karena itu Soo Jung. “Tentu mungkin saja dia hamil, tidak ada yang menghalanginya dari itu. Tapi aku akan benar-benar sangat mengasihaninya kalau pun dia hamil. Mengingat yang akan menjadi ayah anak itu adalah seorang pria brengsek kekanak-kanakan. Aku tidak yakin dia bisa memberi perhatian lebih pada istri maupun anaknya karena dia sibuk menyangkal perasaan cintanya setiap hari,” diam selama sepersekian detik, lalu Soo Jung menyeringai pada pria di hadapannya, “Kenapa? Buru-buru ingin punya anak? Atau dia sekarang sedang hamil?” ujarnya ceria, seolah-olah dia tidak baru saja mengucapkan komentar mengerikan tentang Sehun.

“Tidak!” Sehun mengeraskan rahangnya seraya menjawab. Entah kenapa dia malah jadi semakin gugup, “Dia tidak sedang hamil dan itu masalahnya. Aku tidak ingin dia hamil dan hei, aku tidak mesum dan aku tidak hanya memikirkan itu setiap saat.”

“Jadi apa masalahmu?”

Well, seperti yang aku bilang aku tidak mau dia hamil, jadi aku sudah tidak pernah lagi—kau tau—dan itu sangat menyiksaku setiap hari, karena setiap malam aku melihatnya maka aku akan ingin melakukannya tapi aku tidak mau karena aku tidak menginginkan bayi saat ini dan itu menyiksaku,” jawabannya membuat Sehun menjadi terlihat lebih menyedihkan.

“Dan kau masih berkata kau tidak mesum?” ujar Soo Jung, antara geli dan kesal. Dia bahkan tidak tahu ada perpaduan antara dua perasaan itu, “Bukankah kau bisa pakai pengaman, bodoh? Memangnya kau hidup di zaman apa? Apa kau bahkan tidak tau kontrasepsi?”

“Tentu saja aku tahu! Kau pikir aku bodoh?” jawab Sehun sambil memelototkan matanya pada Soo Jung, “Tapi kau tidak bisa sepenuhnya percaya pada alat-alat itu. Kadang mereka gagal dan aku tidak mau Joo Young sampai hamil nanti.”

“Dan kau sangat bodoh. Aku tidak percaya kau memikirkan sampai ke situ. Kalau begitu siksa saja dirimu sampai mati dan tidak usah pernah kau sentuh istri idiotmu itu—jangan marah padaku karena aku tau kau juga sering menyebutnya idiot—supaya sampai mati kalian tidak usah punya anak. Baiklah cukup! Aku sudah tidak ingin membicarakan tentang ini.”

Sehun hanya diam setelah itu sampai selesai makan siang. Dia resah, kebingungan, tersiksa, dan Soo Jung tidak membantu. Tidak pernah membantu sama sekali dan dia belum juga memutuskan apakah dia jatuh cinta pada Joo Young atau tidak.

.

.

.

Konyol sekali bagaimana seluruh adegan dalam drama komedi bodoh itu terasa seperti perulangan yang sinambung dan hanya mengorbit pada satu ide bodoh di adegan pembuka (yang konyol).

Konsep tentang bayi dan kehamilan tidak berhenti maupun hilang begitu saja. Terus menghantui Sehun sampai berhari-hari setelahnya, bahkan bertambah parah dan semakin membuatnya frustasi. Seperti jerawat yamg muncul di wajah gadis remaja tepat di pagi hari kencannya. Menjengkelkan.

Sehun tidak yakin apakah dia menginginkan bayi atau tidak. Di satu sisi mungkin akan menyenangkan melihat anak-anak yang adalah perpaduan Sehun dan Joo Young versi mini berkeliaran di rumah ini, tapi memikirkan Joo Young yang masih belum juga normal bahkan setelah segala usaha yang dilakukan Joonmyun—dan menyebalkannya lagi Joonmyun malah membagi pikirannya dengan wanita gila yang sedang hamil itu—Sehun merasa kehadiran seorang anak tidak akan begitu membantu. Oh dan lagipula Joo Young masih delapan belas tahun.

Karena itu saat dia melihat Joo Young yang semakin hari semakin membuatnya nervous, dia bahkan tidak punya hal yang paling tepat untuk dilakukan.

“Joo Young-ah, apa yang kau lakukan dengan boneka bayi itu?” tanyanya pelan seraya mendudukkan pantatnya di atas ranjang.

“Hm? Tidak ada, hanya bermain,” jawab Joo Young, tidak lupa senyum idiotiknya yang khas.

“Memangnya permainan apa yang bisa kau mainkan selama seminggu penuh dengan boneka bayi itu tanpa merasa bosan?” bahkan Sehun merasa tegang hanya dengan pertanyaan yang diajukannya sendiri. Rasanya seperti ada kupu-kupu berseliweran dalam perutnya, menggelitik ususnya, dan bukan perasaan yang menyenangkan.

“Ibu-ibuan,” sahut Joo Young singkat. Dia tetap fokus pada bonekanya, mengelus dan menciumnya, kemudian memeluknya.

Sehun dengan jelas melihat ekspresi Joo Young yang tidak terlihat seperti gadis delapan belas tahun yang idiot dan malah terlihat seperti ibu Sehun dulu, tentu saja ibu yang dimaksudnya adalah ibu di panti asuhan  dan itu semakin meresahkan Sehun.

Ditambah dengan sesuatu dalam dirinya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan dan tolol— seperti yang selalu dikatakan Soo Jung—dan tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia merasa cemburu pada sebuah boneka bayi karena istrinya mendekap boneka bayi itu erat dengan wajah boneka itu tepat di dada istrinya? Sehun pasti benar-benar kehilangan segala penyambung syaraf otaknya dan dia mulai merasa kalau dirinya kurang waras.

Sekarang dia tidak yakin sebenarnya diakah atau Joo Young yang mengalami retardasi mental.

“Kenapa bermain ibu-ibuan?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sehun. Dia saat ini sedang berusaha menahan keinginannya untuk menyingkirkan boneka bayi ‘menyebalkan’ itu dari dekapan istrinya.

Joo Young tersenyum, masih memeluk erat boneka bayinya, “Joo Young menontonnya di drama minggu lalu. Orang-orang yang menikah dengan gaun putih di upacara perayaan seperti kita dalam foto itu,” dia menunjuk foto pernikahan dalam pigura besar yang digantung di dinding kamar itu, “Dan mereka tidur bersama. Perempuan itu punya bayi dan dia selalu memeluknya seperti ini.”

Joo Young kembali mengembalikan perhatiannya pada boneka yang berperan jadi anaknya dalam permainan ‘ibu-ibuan’nya dan dia tersenyum hangat pada boneka itu seolah dia hidup, “Ah, tapi oppa…” seru gadis itu tiba-tiba, kembali menghadap Sehun. Sehun menatapnya, menunggu Joo Young menyelesaikan kalimatnya, “Kenapa kita tidak pernah bermain seperti yang kita lakukan setiap malam itu lagi?”

Pertanyaan Joo Young membuat Sehun terkesima. Ia mengatupkan bibirnya, mengeraskan rahangnya, tidak sengaja menggigit ujung lidahnya kemudian segera membebaskan lidahnya yang kesakitan. Dia seolah tidak bisa melakukan hal lain kecuali menatap Joo Young kecil yang sudah tidak begitu kecil lagi. Dia sejak bertahun-tahun lalu sudah tidak lagi gadis kecil. Ironis. Betapa cepat waktu berlalu, karena bahkan Joo Young sudah bukan gadis polos lagi. Dia gadis delapan belas tahun yang terjebak dalam otak anak kecil tapi mengalami hal-hal yang tidak seharusnya dialaminya dan Sehun pria dua puluh tujuh tahun brengsek yang terjebak dalam pernikahan bodoh akibat kebejatannya.

Sehun tidak tau harus melakukan apa, jadi dia hanya bertanya, “Apa kau ingin punya bayi sungguhan?”

Joo Young tersenyum, hanya itu jawaban yang diperlukan Sehun.

.

.

.

Faktor penting dalam drama komedi. Aktor pendukung yang cerewet. Seperti mesin pabrik. Selalu berisik. Mereka adalah favoritmu di saat tertentu. Tapi lebih sering bersikap menyebalkan daripada tidak.

“Jadi? Apa yang terjadi dengan aku tidak akan menyentuhnya karena aku tidak ingin dia hamil?” Soo Jung mencibirkan bibirnya seiring pertanyaan yang dilontarkannya.

Sehun memilih mengabaikan pertanyaan itu dan tidak berhenti mengunyah filletnya.

“Pria mesum menyedihkan,” komentar Soo Jung lagi, berharap Sehun akan membalas. Tapi pria itu tidak bergeming, menikmati sepenuhnya makan siangnya. Soo Jung menghela nafas. “Kau memang tidak pernah menepati kata-katamu sendiri. Ck!” diikuti dengan gelengan kepalanya.

“Kurasa itu tidak masalah, Joo Young tidak mungkin hamil. Aku pakai pengaman, jadi kau tidak usah khawatir.”

Pathetic.

“Kubilang dia tidak akan hamil.”

“..”

“Yaaak, kau dengar? Joo Young tidak akan mungkin hamil.”

Soo Jung hanya membalas dengan menatap Sehun dengan ekspresi termalas dan tidak tertarik yang bisa dibuatnya dengan wajahnya.

“Joo Young tidak akan hamil. Pasti. Aku janji padamu.”

“Ssh…” kali ini Soo Jung mendesis sambil melotot pada pria di hadapannya itu, “Kau membuat aku terdengar seperti selingkuhan yang pencemburu dan tidak mau istrimu hamil.”

“Makanya kubilang padamu…”

Kenyataannya bukan Soo Jung orang yang ingin dibuatnya percaya bahwa Joo Young tidak akan hamil dan tidak ada bayi sampai Sehun menganggap memang perlu ada bayi. Dia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ide tentang bayi sama sekali tidak masuk akal dan sangat konyol, karena dia bahkan tidak mencintai Joo Young (bohong besar).

Tidak. Tidak. Dia tidak mencintai Joo Young. Dan tidak. Dia tidak mau ada bayi saat ini. Apapun yang terjadi.

Sehun menggelengkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri berulang-ulang. Soo Jung memandangnya heran dan menganggap mungkin Sehun gila.

.

.

.

Salah satu dari episode mimpi buruk.

Sehun panik. Dia merasa umurnya berkurang sepuluh tahun (dan itu buruk) dalam sekejap. Tidak ada yang lebih membuatmu panik daripada suara seorang wanita yang adalah istrimu di pagi hari, begitu kau bangun, sedang muntah di wastafel. Karena (1) Istri yang sedang dibicarakan ini tidak demam tapi dia tiba-tiba muntah di pagi hari (2) dia akhir-akhir ini bersikap aneh dan mudah berubah moodnya dalam sekejap (3) hanya satu kemungkinan yang terpikir di otak Sehun saat ini karena dia sudah cukup sering memikirkannya selama beberapa waktu (4) kemungkinan itu adalah apa Joo Young mengalami morningsickness? Yang berarti (5) Ya Tuhan! Dia sedang hamil! Dan yang paling buruk dari rangkaian spekulasi dan kesimpulan itu adalah (6) Sehun benar-benar tidak menginginkan bayi saat ini.

Sehun berjanji akan membawa Joo Young ke dokter saat jam makan siang nanti. Tapi selama berjam-jam di kantor, berhadapan dengan berkas-berkas yang sama sekali tidak berhubungan dengan Joo Young maupun wanita hamil dan bayi, pikirannya terus melayang pada Joo Young.

Berusaha mengingat-ingat malam itu, saat dia melakukannya dengan Joo Young dan itu kira-kira sebulan yang lalu. Tidak tepat sebulan, tapi perkiraannya itu memang sudah sekitar sebulan yang lalu dan dia sudah tidak pernah lagi melakukan yang lebih jauh dari hanya sekedar mencium istrinya itu karena dia selalu dihantui oleh ketakutannya sendiri bagaimana kalau Joo Young hamil dan yang diingatnya adalah dia seharusnya memakai pengaman dan Joo Young tidak mungkin hamil. Tapi mungkin ingatannya salah, atau mungkin juga pengaman itu bocor dan ada banyak alasan yang membuat Joo Young bisa saja hamil.

Dia tidak ingin Joo Young hamil, benar-benar tidak ingin ada bayi saat ini. Selama sebulan, sambil memandangi wajah istrinya yang tertidur seperti anak-anak, dia sudah mengambil keputusan. Dan berharap kehamilan Joo Young saat ini tidak akan mempengaruhi keputusannya itu. Tapi bagaimana? Kehamilan Joo Young tentu saja sudah mempengaruhinya sedikit maupun banyak.

Sehun tidak bisa berpikir jernih. Dia bingung. Dia panik. Dan dia tidak mengiginkan bayi. Jadi dia melemparkan map ditangannya ke atas meja dengan kasar. Mengacak-acak rambutnya kemudian menjambaknya untuk melampiaskan kemarahannya atas kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa Joo Young hamil di saat keputusannya sudah bulat? Apa Tuhan sedang bercanda dengannya?

.

.

.

Adegan penutup dalam satu episode panjang. Yang melibatkan orang-orang yang tidak terlibat. Dan jalan cerita yang sedikit terlalu memaksa. Penutup episode mimpi buruk yang tidak sempurna.

Sehun memeluk kepala Joo Young tepat di depan dadanya. Menciumi pucuk kepala istrinya itu. Joo Young hanya menerima perlakuannya dalam diam, dia menempatkan kepalanya dengan nyaman di dada Sehun. Mereka—sebenarnya hanya Sehun— berpura-pura tidak tahu kalau orang lain sedang memperhatikan mereka. Dia dapat dengan jelas merasakan seorang ibu berumur sekitar tiga puluhan dengan perut yang membesar seolah akan pecah sedang menatap mereka. Sepasang suami istri lain yang juga sedari tadi memandangi mereka, jelas sekali risih dengan tindakan pasangan muda itu dan beberapa ibu-ibu yang duduk tidak begitu jauh sedang berbisik-bisik. Mungkin menggosipi mereka, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas entah kenapa Sehun dan Joo Young rasanya begitu mencolok dan menjadi pusat perhatian di tempat ini.

Seorang wanita paruh baya bergeser dari posisi duduknya yang semula berjarak dua kursi dari mereka. Kini wanita itu duduk tepat di sebelah Sehun. Dia tersenyum ramah pada pria muda di hadapannya itu yang dibalas dengan anggukan pelan.

“Adikmu?” tanya wanita tua itu.

Sehun tersentak, “Oh, tidak. Tidak.” Dia menggerakkan tangannya cepat, menyangkal, “Dia ini…”

“Oh aku mengerti,” Wanita tua itu tersenyum lagi.

Sehun tidak begitu yakin apa yang sudah dimengerti wanita tua itu, tapi dia memilih untuk tidak usah bertanya. Karena dia tidak begitu suka menjelaskan apa pun tentang dirinya pada orang asing, jadi dia hanya bertanya, “Menemani putri anda?” karena dia melihat gadis muda yang tadi duduk di antara Sehun dan ahjumma ini beberapa saat lalu masuk ke ruangan dokter.

“Ya,” Wanita itu sekali lagi tersenyum, sepertinya dia memang suka tersenyum pada orang asing, “Dia putriku satu-satunya,” kali ini kepalanya tertunduk. “Hhh, aku tidak mengerti bagaimana dia bisa berhubungan dengan pria brengsek itu dan berakhir hamil begini.”

Uh.Oh. Sehun tidak siap untuk mendengar curhatan tentang bagaimana putri ibu ini hamil. Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya dan Sehun tidak ingin membuat wanita yang ramah ini tersinggung dengan mengatakan kalau dia tidak tertarik—karena dia bukan Soo Jung yang kasar—jadi dia memutuskan untuk mendengarnya saja sambil mengelus rambut dan punggung istrinya dengan lembut. Joo Young masih dengan nyaman menyandarkan kepalanya di dada Sehun.

“Laki-laki brengsek itu…” ujarnya berapi-api, jelas tidak mau repot-repot menyembunyikan kebencian, “tidak pantas menjadi guru! Tidak! Dia bahkan tidak pantas jadi manusia. Memanfaatkan kepolosan putriku yang baru enam belas tahun dan menghamilinya.”

Sehun sedikit banyak merasa dia baru saja ditusuk keras tepat di jantungnya saat mendengar kata-kata wanita itu. Seolah-olah kata-kata itu memang ditujukan untuknya, dia memang tidak pantas jadi manusia karena sudah memanfaatkan Joo Young yang polos.

“Setelah dia menghamili anakku, dia lalu menyuruhnya untuk membunuh anak yang dikandungnya itu karena dia sudah mempunyai anak dan istri. Kalau begitu kenapa dari awal menggauli Ae Ri? Pria brengsek! Dia seharusnya dikebiri saja.”

Sehun turut bersimpati pada gadis bernama Ae Ri ini dan merasa bersyukur kalau dia tidak dikebiri dan memang dia tidak pantas mendapat hukuman sekejam itu. Karena meskipun dia brengsek, setidaknya dia bertanggung jawab dengan menikahi Joo Young (walau terpaksa).

Baik Sehun maupun wanita itu diam, begitu juga Joo Young. Wanita tua berusaha mengatur nafasnya setelah bercerita cukup panjang. Sehun tetap mengelus kepala dan punggung Joo Young, siap mendengarkan jika wanita itu ingin melanjutkan celotehnya. Joo Young tetap diam nyaman dalam pelukan Sehun.

“Karena itu pria muda…” ujar wanita tua itu lagi tiba-tiba. Dia menatap Sehun serius, “Apapun yang terjadi jangan melakukan aborsi.”

Sehun tersentak. “Eh?”

“Seburuk apapun, Jangan! Ambil tanggung jawab sebagai pria,” katanya lagi, menatap Sehun masih dengan tatapan yang sama.

“Tunggu Ahjumma, sepertinya kau salah paham,” sergah Sehun cepat. Serangan panik seketika menghampiri, jadi ini maksudnya bercerita dari tadi? Dia berpikir Sehun membawa Joo Young ke sini untuk membunuh bayi mereka.

“Biar bagaimanapun meskipun dia hanya affair, kau tetap harus bertanggung jawab. Aku tahu mungkin memang sulit bagi pria seusiamu yang mungkin sekarang sedang memiliki karir yang bagus karena istrimu, tapi kau tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu pada gadis muda ini,” Wanita itu menatap Joo Young iba, “Sedih sekali kau harus mengalami hal seperti ini,” katanya pada Joo Young seolah pada putrinya, “Jangan paksa dia membunuh bayi kalian.”

Ahjumma kau salah. Sama sekali salah.” sergah Sehun lagi, setengah berteriak kali ini. Dia jadi kehilangan kesabarannya karena wanita itu tidak berhenti mengoceh. Memang dia tidak sepenuhnya salah. Well, Sehun memang jadi sesukses ini berkat keluarga istrinya (yang juga adalah keluarganya). Tapi kebetulan saja istri yang dibicarakan itu adalah wanita yang sama dengan yang dipeluknya saat ini. Joo Young bukan affair, walaupun Joo Young terlihat terlalu muda untuk menjadi istrinya (Sehun sedikit tersinggung dengan ini).

Ahjumma, dia ini adalah istriku,” Sehun berusaha untuk tidak terdengar menyedihkan, tapi entah kenapa bahkan dia sendiri dapat merasakan betapa memalukannya dia terdengar saat ini. Suaranya bergetar, “Dia istriku, percayalah,” Sehun tidak percaya dia sedang berusaha meyakinkan seorang wanita asing—yang bahkan baru berbicara dengannya beberapa menit lalu, dia bahkan tidak tahu nama wanita ini—kalau Joo Young adalah benar-benar istrinya. Padahal bisa saja dia membiarkan wanita itu berasumsi sesuka hatinya, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada ketidaknyamanan yang jelas terasa karena wanita itu berpikir dia sedang berusaha menyakiti Joo Young.

“Joo Young istriku,” ulangnya lagi. Sehun malah terdengar semakin menyedihkan, lebih menyedihkan daripada yang dapat dibayangkannya, “Dan dia adalah satu-satunya istriku. Aku tidak akan menyakitinya bahkan seujung rambutnya tidak akan pernah sanggup kusakiti, karena Joo Young sangat berharga bagiku. Lebih dari apapun, dari siapapun, tidak akan kubiarkan seorang pun menyakitinya. Termasuk aku sendiri, karena aku…aku…” Sehun tercekat. Kata-kata itu masih menggantung di tenggorokannya.

Kenapa dia repot-repot menjelaskan ini pada orang asing? Kenapa dia tidak suka saat wanita tua itu berspekulasi seenaknya tentang hubungannya dengan Joo Young? Kenapa dia selalu marah tiap kali Soo Jung menyebut Joo Young idiot? Kenapa dia selalu cemburu pada Baekhyun sepupu Joo Young yang menyebalkan itu? Kenapa dia cemburu seperti seorang idiot bahkan pada boneka bayi yang dipeluk Joo Young itu? Kenapa dia tidak ingin Joo Young hamil? Karena dia tidak ingin anak. Kenapa? Karena kasih sayang Joo Young akan terbagi pada bayinya. Karena Joo Young pasti akan lebih memperhatikan bayinya. Karena Joo Young menginginkan bayi itu. Karena dia takut jika bayi itu sudah besar, bagaimana kalau dia berbalik membenci ibunya yang idiot? Makanya ide tentang anak sangat meresahkannya. Lalu kenapa semua itu mengganggunya?

Klimaks dari drama konyol itu adalah pertanyaan beruntun dan flashback aneh. Diikuti kesadaran batin aktor utama yang bodoh itu. Memang begitulah drama. Klise dan delusional.

Sekarang semua terasa masuk akal.

“Karena…”

Walaupun Soo Jung akan tertawa gembira dan mengejeknya sebab selama ini tidak mau percaya padanya.

“…Aku…“

Walaupun dia harus menghabiskan sisa hidupnya dengan mengingkari kewarasannya.

“…Sangat…“

Itu semua sudah bukan masalah lagi, karena ada kupu-kupu menggelitik perutnya setiap kali bersama Joo Young dan itu sebenarnya adalah perasaan yang menyenangkan.

“…Mencintai…“

Cara yang konyol untuk menutup episode mimpi buruk. Tapi memang dari awal drama ini hanyalah sekumpulan omong kosong konyol, ‘kan? Drama konyol yang manis.

Seperti penutup dari sebuah kisah cinta yang berakhir bahagia. Sehun menyadari, dia bukannya tidak bahagia sama sekali telah menikahi gadis polos ini. Setiap hari hatinya seolah dipenuhi bunga. Begitu banyak kupu-kupu juga bintang-bintang dan ada malaikat beterbangan di sekitar kepalanya. Mungkin Cupid kali ini betul-betul sudah—Tidak, bukan cupid, melainkan Joo Younglah yang membidik hatinya dan menembaknya tepat di sasaran. Jantung yang berpacu dan darah yang berdesir ini adalah buktinya. Kalau dia memang sudah jatuh dalam perangkap cinta, sekuat apa pun barikade yang dia bangun terhadap gads ini, seklise apa pun semua ini terdengar. Karena memang waktu rasanya seakan melambat tiap kali gadis ini di pelukan. Seolah seluruh dunia menjadi blur dan Sehun tidak pernah merasa sebodoh sekaligus sebahagia ini. Dan semua hanya karena seorang—

“…Joo Young.”

=You’re Crazy and I’m Out of My Mind=

Hai guys, tell me if you still want another sequel because I’m so ready to give it to you. Tapi ada syaratnya. Review buat sequel ini harus lagi-lagi melampaui review di sequel sebelumnya. Yeah, I know it’s so evilish and unfair. Tapi yang nge-view sama sekali tidak sebanding dengan 500 review (yang setengahnya adalah balasan dariku sendiri). Jadi, kalau kalian memang pengen sequel, go on and feed me with comment. Dan walaupun kalian udah ngerasa gak butuh sequel lagi, aku tetap berharap dapat feedback, karena hei aku pantas untuk itu, jangan egois guys. Shame on you uhuk siders:) Btw, it’s okay to bash or say anything you want if you feel it necessary. I’m not angry^^

Karena alasan tertentu aku mutusin mulai sekarang bakal update di WP ini. Baik sequel buat cerita ini, sequel buat Mr. Friday maupun oneshot. Tapi sekali-sekali aku tetap post di efw juga (buat oneshot).

By the way, follow blog ku ini yah ^^ *promosi*

Akhir kata, review yah ceman-cemin^^ It made my day. Oke. Byebye. Have a nice weekend 🙂

Tertanda : Sehun wifeu 🙂

Advertisements

154 thoughts on “WHAT IS LOVE Part 2 [3rd Sequel to You’re Crazy and I’m Out Of My Mind]

  1. annyeong .. sbenernya aku agak binggung dengan kata” sbelum masuk ke cerita, seperti contoh yg pas di love you not love you itu slelau ada hari menyebalkan dan di sini krng lebih ada tapi tidak sekentara itu, itu untuk apa ya ?

    dan aku new reader soalnya baru mulai serching lagi soal ff maupun seputar kpop ._.
    ceritanya bagus loh, jrng temuin cerita kyk gini .. si Sehunnya merasa gelisah tanpa tahu apa yg dia rasakan ke Jooyoung 🙂
    nice story .. aku follow kamu pnya wp jg

  2. puas ga puas sama endingnya meskipun aku seneng soalnya sehun mengakui dia mencintai joo young tapi endingnya kurang klimaks thornim , tapi keseluruhan aku suka banget sama bahasa author yg gitu , dari awal emg punya insting ff ini bakal bagus dan trnyata bener .. sumfah kocak padahal ini bukan ff genre comedy loh ya /haha\

  3. Kaka aku ketinggalan. . .
    Aku pikir post diblog tetangga. . .
    Aaddduh. . Kesian banget deeh guaaa!!!
    Finally. . . Akhirnya suami aku ngaku juga kalau dia emang cintaaa sama aku*eh
    Suka suka suka
    Teruuuus suka ama couple ini. .
    Gak sabar nunggu sekuelnya bakal gimana kehidupan Duo ini
    Daaan aku pingin baca ejekannya SooJung buat Sehuuun *hahahaha, kena lo hun makanya jangan kebanyakan ngedusta malu ndiri kan pas ketahuan
    Ok fix. . Karena udah mampir diblog kaka aku sekalian baca yaaa ff yg lainnyaa
    Ijin juseyoooo
    Kaka jjang keep writing yaaa,,,,

  4. eon, aku suka banget sama ff ini. maaf baru komen disini 😀 banyak banget kata-kata yang aku ngerti dan aku cari di google. gini nih harusnya, ff yang membuat pembaca nya nambah pengetahuan. duh salut #proud.

  5. Yang awal” agak nggak ngerti kak, jadi cowok 3 itu ngumpul buat dengerin ceritanya suho gitu? Trus itu hamil nggak jooyoung nya?

  6. huwaaa….
    sukaaa….
    ini salah satu ff yang aq ikutin dan tunggu2…
    awalnya baca ini karena penasaran, tapi pas udah baca jadi nunggu2 sequel nya….
    sukaaaaa…
    dari joo young yang polos, sehun yang selalu mengingkari apa yang dia rasakan, baekhyun yang usil, soojung yang pemarah dan suho yang bijak..
    semuanya sukaaa…
    mau sequel dong chingu ^_^
    gomawoyo…

  7. annyeong,.aku readers baru di blog ini..hehe,.iyalah baru follow gituu..
    .aku tuhh pembaca yg demen bgt ma ff ini..jujur nii,.walopun aku tau ff inii baruu tadiii…& taunya pertama tuhh disequel part 2.di blog efw ,.trs aku cari” nee chingu..eh ehh,.ternytaa..oneshootnya menariikk bgtt,.trs akuu lngsung lanjut terus nihh chingu..sampaii deh di blog pribadimu,.
    ..aku suka bgtttt sma kelanjutan” cerita inii,.beneran dehh..
    .trs aku sampe heran bgttt..apalagii di chap inii,.bener” dehhh..kageettt bgt awalannya..kiraiinnn,.huaaa aku kejebakk ternyta..kiraiin tuh yg hamilll jooyoung..haddehh,.chinguu nee..
    trs smpet ngekek waktu bayangin.gmna ekspresi sehun pas terbayang” bayi & semacemnya ituu..hahagkk,.kereenn bgtttttt…
    salutt deh pokoknya sama cara kamu nuangin imajinasimu di dalam tulisan ituu,.kereennn…
    ditunggu kabar gembira nee..jooyoung bisa jadi normal trs betapa bahagianya sehun wekeke..

  8. annyeong,.aku readers baru di blog ini..hehe,.iyalah baru follow gituu..
    .aku tuhh pembaca yg demen bgt ma ff ini..jujur nii,.walopun aku tau ff inii baruu tadiii…& taunya pertama tuhh disequel part 2.di blog efw ,.trs aku cari” nee chingu..eh ehh,.ternytaa..oneshootnya menariikk bgtt,.trs akuu lngsung lanjut terus nihh chingu..sampaii deh di blog pribadimu,.
    ..aku suka bgtttt sma kelanjutan” cerita inii,.beneran dehh..
    .trs aku sampe heran bgttt..apalagii di chap inii,.bener” dehhh..kageettt bgt awalannya..kiraiinnn,.huaaa aku kejebakk ternyta..kiraiin tuh yg hamilll jooyoung..haddehh,.chinguu nee..
    trs smpet ngekek waktu bayangin.gmna ekspresi sehun pas terbayang” bayi & semacemnya ituu..hahagkk,.kereenn bgtttttt…
    salutt deh pokoknya sama cara kamu nuangin imajinasimu di dalam tulisan ituu,.kereennn…
    ditunggu kabar gembira nee..jooyoung bisa jadi normal trs betapa bahagianya sehun wekeke…

    1. hai hello 🙂
      makasih ya udah ngikutin ff ini walaupun udah lama ^^
      wkwk sebenernya ff ini gatau knp paling banyak peminatnya dari semua ffku XD
      btw kamu udah baca lanjutannya belum? kalau penasaran boleh dicek yah, judulnya fool in love 🙂

  9. Ini ff udah saya tunggu dari jaman sehun belah tengah (?).. keren deh suka sama cara penulisannya.. semoga ada lagi sequelnya.. keep writing thor’-‘)9

  10. squelnya gokill onnie..hahaha entah knp aq suka sama karakter sehun yg rada mesum (?) wkwkwk tp aq seneng akhirnya sehun ngaku kalo dia itu mencintai istrinya… 😀 oh ya onnie, ini ada squelnya lg gak ya?? hehe (ngarep)

  11. eonni tolong. kek 1tahun nunggu sequel ini. sequel sblmny kek ada tanda2 istri sehun sembuh 😦 pliz sembuhin aja wkwk

  12. Akhirx sehun berebti menyangkal..berenti menduga..kalimatx keluar dgn sendirix wlwpn ad jeda di tiap katax haha

  13. Aku baru liat blog author yg ini aahhh seneng ya aku nunggu nunggu ff ini ternyata ada kelanjutannnya woahhh seneng bgtt aku harap ini masih ada lanjutannya thorrr ahh masih penasaran suka bgt kisah merekaaaa . Author daebakkk!!!!

  14. Akhirnya Sehun memgakui kalau dia mencintai Joo Young ^_^
    Ternyata Sehun peduli banget sama Joo Young dia ga mau Joo Young hamil karna alesan seperti yang di atas.

    Aku berharap banget ada sequelnya lagi thor aku berharap Joo Young bisa sembuh dan bisa menjadi istri serta ibu yang baik buat Sehun dan anaknya nanti ^_^

  15. yaampun._.
    aku ketinggalaaan ternyata post nya disini, omaygat aku kira kkeut sampe yang disana ajaa ternyata ada masih ada part 2 nyaa yg berlanjut dgn kelabilan sehun yg bkin gigit2 jari emesin luarbiasa 😀
    masiih ada baek disiniiii, yeeeaaaayyy !!
    daaan topiknya berlanjut menjadi lebih ekstreem 😀

    okeoke, seriously
    aku masih dibuat ngakak sama hubungan sehun dan soojung, mereka bner2, 😀 i dont know terlalu abstrak untuk aku jelasin dan aku bukan anak filsafat
    daan ternyataaaaaaa, jerengjeeeng
    inilah pengakuan sehun yg sebenar benar benar amat benarnya*-_____-“(?)
    i know youuu !*nunjuksehun
    kau manis sekaliii, aku suka sehun yg akhirnya memilih untk mengakui dan menyerah dalam mode penyangkalan
    proud of you dear :-*
    eniiiweeeei, thanks for share author sukseess teruuss ❤

  16. woww.. ending yang cukup memuaskan.. dari dulu aku gemes banget bacanya.. sehun yang begitu egois dan mengingkari perasaan nya sama joo young bikin emosi banget.. aku juga cukup terharu karena alesan sehun yg gak pingin Joo Young hamil… soo jung yang dari awal berusaha menyadarkan sehun kalau dia cinta joo young aja selalu gagal.. dan yang justru bisa.. malahan ibu2 cerewet wkwkwk… Good job…. semangat terus kakak author.. 😉

  17. *ekhem cek 123* aku ga sengaja nemu ini cerita pas blogwalking
    mana pas puasa lagi bacanya untung lagi batal #CurcolModeOn XD
    kasaranya reader baru getoh ^^
    lumayan amazing ya pas awal baca dengan segala castnya
    especially with our OC (JOO YOUNG) woahhh daebak
    punya kelainan –> udah nikah –> mo punyak anak lagi
    yang paling bikin shock dia lapanbelas sist aigoo~
    duh sehun keliatan banget brengseknya -_-
    “can I handle it till the end ?” itu yang jadi pertanyaanya kalo misal ini di lanjut
    mampus lo Hun bisa stroke muda kali !!! *smirk*
    semoga ada pencerahan ya untuk semuanya di kemudian hari LOL

  18. maaf baru komentar thor,soalnya baru baca..lanjut thor…so sweet banget….semoga aja Joo Young bisa berubah menjadi wanita normal…jangan lama2 thor biar nggak kelupaan sama ceritanya…fighting thor…

  19. Aaaaaaaaah tuhkan bener Sehun beneran fallin’ love sama Jooyoung
    Emang keras kepala banget yah si Mesum Tinggi nan Pucet itu
    Overall aku beneran butuh sequel kaa

    Ooh iyaa, kenalin aku Alma, 99line
    Salam kenaal^^

  20. eumm sebetulnya aku kurang ngerti tapi aku suka dan aku penasaran sama ceritanya. sehun jooyoung lucu haha aku penasaran kalau anak nya sehun dan jooyoung lahir kaya gimana..

  21. jooyoung harus banyak banyak terapi supaya bisa jadi wanita pada umumnya supaya bisa ngurus anak dengan bener, aku tau aku emg sangat sangat terlambat baca ff ini, dan aku sangat berharap ada lanjutannya, oke see u

  22. Ciee akhirnya ngaku juga . Kemana aja lo bang gak nyadar2 -,- aku suka bgt ih , biarpun kebanyakan dilihat dari sudut pandang sehun aja ya gimana yah Jooyoung nya gak gak bisa cerita apapun *eh masih ada sequel lagi apa chapter ? Penasarannnnn
    Makasihhh authorr :*

  23. Honestly, saya rasa feelnya yang dulu melankolis waktu saya series ini sebelumnya, berubah jadi komedi dan so funny! (Look at Sehun, he is so cute with his struggle.)

    Dan akhirnya, Sehun admit juga kalau dia cinta Jooyoung :’)

  24. Suka pake banget sama ceritanya, keren banget ihhh♡ buat kak authornya, good job! Bisa banget bikin cerita yg bisa mainin perasaan pembacanya, baper deh jadinya~ haha. Lanjutin trs ya kak ceritanya, jangan putus pleaseee. Thank you

  25. keren vrooh, endingnya agak nggantung gitoeh jadi penasaran kelanjutannya gimana…..keep spirit for writing

  26. Wahhh daebak pembukaan cerita dikira joo young. a ud hamil gatau. a pasien si joonmyun.. bagus sekali chingu ceritanya. Soalnya ff ini berbobot isinya lumayan byk ilmu yg bs diambil..

  27. Rasanya tuh… Nyesss… Akhirnya kelar juga Sehun ngeyakinin hatinya, setelah sekian lama gundah gulana ngurusin perasaannya yg bikin readers galau setengah idup-_-
    Nemu juga alesan Sehun gamau punya anak, yahh serba takut ama alesan2 yg nantinya bakal bikin Sehun diacuhin lagi kaya insiden ‘Baekhyun’ si sepupu wkwk

  28. aku yg ini sepertinya baru baca. dan wow ini luar biasa lucu. sehun setress. dia yg menyebabkan tapi dia juga yg gak nyangka aduh sehuun gemes sumpaah
    ihihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s