[BOOK REVIEW] AN ABUNDANCE OF KATHERINES by JOHN GREEN

22070930

Judul: An Abundance of Katherine

Penulis: John Green

Penerbit: Gramedia

Cetakan: –

Jumlah Halaman: 320 halaman

Tahun Terbit: 2014

ISBN: 978-602-03-0527-1

Genre: Romance, Friendship, Math, Young Adult

Format: Paperback

Ω

Talking about this book, awalnya aku gamau baca buku ini. Nolak mentah-mentah waktu temanku Desy—yang punya buku—nawarin buat baca buku ini. Karena dari sinopsis dan penggambaran tokoh prianya yang terlalu weak di awal cerita aku langsung bilang “BIG NO. NO FREAKING WAY DES. Aku gamau baca bukumu yang isinya percintaan eksplisit cowok Amerika jenius yang mewek diputusin cewek.” Tapi pada akhirnya buku ini tetap aku baca karena temenku bilang aku pasti nyesel kalo gak baca. So here it goes.

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.

Katherine X hanya ingin berteman.

Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.

Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine. Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak.

Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apapun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

First impression from this novel is, wow he loves nineteen girls named Katherine and those girls dumped him like a trash. Colin is a pathetic loser. Jujur itu yang aku pikirkan sebelum mulai mengobrak-abrik dalaman buku ini. Karakter Colin yang terlalu manja dan lemah membuat aku gemes sendiri. Aku gak tau apa mungkin itu udah menjadi ciri khas cowok-cowok jenius. Like it’s their thing. Colin terlalu cengeng sebagai cowok.

Membaca dari judul dan sinopsisnya kita bisa langsung simpulkan kalau Colin sedikit terobsesi dengan gadis-gadis bernama Katherine ini. Strange obsession honestly. Selama delapan belas tahun hidupnya, dia sudah berkencan dengan Sembilan belas gadis bernama Katherine dan dicampakkan oleh kesembilanbelasnya. That’s absurd and stupid somehow.

But personally, I like the way Green starts the story.

Pada pagi hari si anak ajaib Colin Singleton lulus SMA dan ditinggalkan untuk kesembilan belas kalinya oleh gadis bernama Katherine.

Straight to the point ngasih tau kalau Colin lagi patah hati pasca diputusin sama cewek bernama Katherine yang kesembilan belas kalinya.

Jadi di sini ceritanya Colin galau berat karena Katherine XIX mutusin dia. Dan untuk menghilangkan rasa sedihnya akibat dicampakkan sama Katherine XIX Colin dan sahabatnya Hassan pergi berkendara alias melancong.

Hassan adalah karakter favoritku dalam novel ini. Walaupun sedikit cerewet dan suka sok pintar, dia itu sahabat yang setia banget dan bisa dikatakan mau melakukan apapun buat sahabatnya. Tipe sahabat yang gak bakal pernah rela aku lepasin. Hei, tidak ada yang rela berkendara bahkan sampai ke daerah terpencil hanya untuk menemani seorang anak manja cengeng yang katanya jenius mencari momen eureka dan menghilangkan rasa sakit akibat patah hati. Aku cukup kagum bagaimana Hassan mempertahankan kewarasannya di samping orang yang membuat kurva matematika untuk hubungan cinta dua puluh empat jam sehari.

Oke, lalu dua pemuda ini sampai di Gutshot, Tennessee karena terpancing dengan plakat yang menunjukkan arah makam Archduke Franz Ferdinand—supaya kalian tahu kematian beliau ini adalah pemicu meletusnya Perang Dunia I. Dan di Gutshot mereka bertemu dengan Lindsey Lee Wells, gadis yang membaca Celebrity Living. Dan mulailah petualangan musim panas di Gutshot sambil berusaha merampungkan teori matematika cinta Colin tentang si Pencampak dan Tercampak.

Sarkasme-sarkasme khas John Green dalam novel ini juga sangat menyegarkan otakku. Seperti ini.

Kau tahu, kami punya benda di sini—aku tidak tahu apakah ada di tempat asal kalian, kami menyebutnya kalkulator, dan benda itu bisa menghitung untukmu —Lindsey

Aku paling suka bagaimana dalam novel ini Colin dan Hassan mengalami proses pendewasaan mental dalam masa pelancongan mereka ini. Seolah memberitahu para pembaca kalau terkadang kita perlu keluar dari sanctuary kita yang nyaman dalam lingkungan yang selalu kita kenal. Banyak pengalaman dan pelajaran yang perlu kita cari di dunia luar. Just like Colin and Hassan did in this book.

Oke, cukup sekian. Aku akan berhenti sampai sini sebelum aku menceritakan keseluruhan isi bukunya.

Aku akan menutup postingan ini dengan salah satu quote yang sempat membuatku terenyuh dalam buku para Katherine ini.

Buku adalah tercampak sejati: letakkan saja dan mereka akan menanti sampai kapan pun; pusatkan perhatian dan mereka akan selalu membalas cintamu.

Let’s appreciate our books more, guys 🙂

Salam

Aku

lucky no15

Something Borrowed
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s