[FF Berantai] Flechazo : Puzzled

fleca_zho

FLECHAZO : Puzzled | by Tamiko

Chanyeol Park | Romance, Friendship, Comedy, Fluff, Schoollife | PG

Prologue || Clueless || Drama

Chanyeol seperti menggenggam potongan teka-teki rumit yang bahkan tidak punya petunjuk pengerjaan.

Bibirnya tidak berhenti melengkung. Seperti sedang berada di bawah pengaruh sihir khusus yang membuat otaknya tanpa henti memerintah otot senyum meraja sedemikian rupa pada mimiknya. Park Chanyeol sangat jelas sedang dipengaruhi mantra berupa sepenggal tulisan dalam tinta gelap yang dibacanya dua hari lalu di atas kertas naskahnya.

‘Baek Sumin as Princess’

Hal lebih baik bagaimana lagi yang bisa diharapkan Chanyeol dari drama yang akan dimainkannya? Ralat. Mereka mainkan. Oh yeah. Demi bulu ketiak Dewa Chronos — eew sedikit menjijikkan — Chanyeol sudah merasa seperti roket yang diluncurkan untuk jalan-jalan di bulan. Menembus atmosfer dengan kecepatan super tinggi karena Sumin sudah ditetapkan akan menjadi pasangannya. Biar hanya dalam drama, Chanyeol sudah merasa seperti seorang penerima nobel. Chanyeol yakin dialah yang paling diberkati dari segala makhluk.

Tidak semua orang yang sedang mengincar gadis di sekolah — yang bahkan tidak pernah tahu eksistensimu — bisa merasakan perasaan bahagia yang langka seperti yang sedang melanda Chanyeol sekarang. Sebut saja kemarin cinta satu sisi kepada gadis cantiknya tengah berhadapan dengan jalan buntu dan Chanyeol hampir putus asa dengan usahanya — yang sebenarnya belum ada sama sekali. Sekarang tiba-tiba saja kesempatan itu sendiri yang mendatangi Chanyeol dalam bentuk drama. Siapapun yang membuat pembagian peran itu, Chanyeol patut berterima kasih dan membelikannya makan siang sampai semester depan. Tidak tidak. Chanyeol tidak akan rela melakukan itu. Kalau dia harus membayar makan siang seseorang di luar sana sampai semester depan, lalu bagaimana dengan rencananya untuk membeli drum set baru? Dia hanya akan berterima kasih saja pada orang itu. Ya. Terdengar lebih baik.

“Apa yang kau lakukan bodoh?” jitakan tiba-tiba di ubun-ubun yang diikuti suara cempreng noona-nya seketika membubarkan segala angan dan pikiran Chanyeol yang terorientasi pada drama dan pemeran putrinya.

Noona apa kau tidak bisa membiarkan aku bernapas bebas di rumah ini lima detik saja?” tangan Chanyeol bergerak spontan menyentuh ubun-ubunnya yang tidak begitu mendapat pengaruh besar dari jitakan pelan noonanya. Kedua alisnya tertaut dan Chanyeol menatap Yoora kesal.

“Kenapa reaksimu dramatis sekali?” Yoora yang ikut-ikutan mempertemukan alisnya sekali lagi menjitak kepala Chanyeol kemudian mengambil ruang kosong di samping Chanyeol untuk mengistirahatkan pantatnya.

“Kau yang kenapa tidak mau berhenti mengusikku?”

“Diam. Aku ingin konsentrasi menonton.” Tanpa aba-aba tangan Yoora sudah bergerak bebas merebut remot dari Chanyeol.

“Kau yang dari tadi tidak berhenti bersuara noona.”

Park Yoora melipat kakinya di atas sofa dan menoleh kepada Chanyeol. “Dan kau tidak berhenti menyahut.” Ujarnya ringan seraya memencet tombol remot.

“Yaak noona, jangan diganti.”

“Berisik aku mau menonton drama. Lagipula dari tadi kau hanya menggeleng dan menggangguk-angguk tidak jelas di depan tv.” jawab cepat seirama dengan layar yang berganti-ganti menampilkan tayangan televisi. Belum ada yang menarik perhatiannya.

“Entah kenapa aku berharap bisa mengganti noonaku.”

“Tererahmu saja.” Yoora tak acuh pada gerutuan adiknya. Dia sudah terlalu terbiasa dengan itu. Jadi dia hanya mengedikkan bahu dan tetap melanjutkan berburu acara televisi yang menarik.

“Noona stop. Aku mau menonton acara musik.” Chanyeol sekali lagi menautkan kedua alisnya sambil menatap heran pada Park Yoora yang masih konsisten dengan kegiatan zapping nya. Chanyeol tidak mengerti mengapa Yoora harus mempertahankan ibu jarinya di atas satu tombol. Bolak-balik mengganti acara televisi mereka, bahkan tidak berhenti sebentar saja untuk melihat acara apa yang sedang berlangsung di stasiun mana. Karena yang dilakukan oleh noona nya itu sedari tadi tidak lain hanya mengganti saluran. Chanyeol merasa yakin kalau mereka sudah kembali pada saluran yang sama sebanyak tiga kali dan Park Yoora masih belum berhenti mencari saluran yang menarik.

“Kau bolak-balik hanya mengganti channel dan tidak memperhatikan apapun, sampai JYJ balik ke TVXQ juga tidak akan ada acara yang menarik.” Ujar Chanyeol akhirnya seraya menatap pasrah pada gambar yang terus berganti di hadapannya. Merasa Yoora tidak akan berhenti dalam waktu dekat, Canyeol memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Chanyeol:

Kuharap aku bisa mengganti noonaku dengan perempuan lain yang lebih baik. Hn.


Chanyeol diam sejenak memandangi pesan yang baru saja dikirimkannya pada Baekhyun. Menunggu beberapa detik apakah Baekhyun akan segera membalas pesannya. Tapi tidak ada tanda bahwa Baekhyun bahkan sudah membaca pesannya, jadi Chanyeol mengembalikan ponselnya ke tempat semula.

“Ayolah noona. Biarkan aku menonton Music Bank.” Chanyeol memutar bola matanya saat mendapati gambar-gambar di televisi masih terus berganti setiap dua detik sekali yang artinya Park Yoora belum selesai dengan kegiatan ‘mencari saluran yang menarik’nya.

“Kau mengetik pesan untuk siapa barusan?”

Park Yoora yang akhirnya memutuskan menyerah dengan televisi yang menurutnya kurang otentik melemparkan remot pada Chanyeol.

“Akhirnya.” Dengan sigap Chanyeol segera menangkap remot sebelum menghantam hidungnya. Kemudian segera mengembalikan saluran yang dipasangnya awal tadi. “Bukan siapa-siapa.”

“Ouh.”

Kedua saudara Park itu kemudian menonton pertunjukan musik di depan mereka dalam hening. Chanyeol sesekali melirik curiga pada Yoora yang anehnya bersikap sedikit tenang. Dia sudah terlalu terbiasa menghadapi sikap Yoora yang berisik dan suka seenaknya, tidak lupa dia juga suka berspekulasi sesukanya. Yeah kita semua tahu bagaimana dia sudah menuduh Chanyeol, adiknya sendiri, satu-satunya yang tertampan, sebagai gay.

Sebenarnya ini bukan pertama kali Chanyeol melakukan taruhan konyol dengan saudara perempuannya. Mereka sudah pernah melakukan taruhan-taruhan ekstrim. Seperti saat Yoora bertaruh bahwa Chanyeol tidak akan lulus ujian masuk ke SMA. Yoora terbukti kalah. Atau saat mereka bertaruh kalau Yoora akan putus dalam tiga hari dengan kekasihnya akhir September tahun lalu. Chanyeol membayar mahal untuk kekalahannya waktu itu. Walaupun Yoora tetap putus dengan kekasih yang dimaksud hari berikutnya, tapi itu tetap kekalahan Chanyeol. Chanyeol sekarang berharap dia waktu itu mengatakan dalam empat hari. Oh masih ada juga taruhan konyol lain. Saat Chanyeol masih kelas tiga SD dan Yoora baru saja masuk SMP, mereka bertaruh apakah Chanyeol berani menyingkap rok anak perempuan yang disukainya. Jangan tanya siapa yang menang dan kalah. Karena mereka berdua mendapat ganjaran yang setimpal saat itu. Well, bukan memori yang cukup indah yang bisa kau miliki dengan saudaramu.

“Ngomong-ngomong ini sudah hari kelima.”

“Eh?” Chanyeol melongo saat tiba-tiba Yoora berbicara di sampingnya.

“Waktu taruhan kita tiga minggu. Dan ini sudah hari kelima.” Ulang Yoora, sengaja menekankan pada kata tiga minggu dan hari kelima.

Heol. Chanyeol menarik kembali kata-katanya kalau Yoora bersikap sedikit tenang. Keahlian noonanya selain menyiarkan berita adalah membuat hidup Park Chanyeol seperti sedang ada di neraka tingkat Sembilan.

“Astaga noona. Apa kau harus mengingatkanku setiap hari tentang itu? Kau sudah seperti alarm pribadiku saja.”

“Itu karna kau terlihat santai.” Balas Yoora seraya mengedikkan bahu tak acuh. DIa bahkan tidak menatap Chanyeol dan hanya memfokuskan pandangannya pada gadis-gadis yang menari sexy di televisi, sesekali dia terdengar seperti berkata ‘eeww, menjijikkan’ atau ‘binal sekali’. Tidak ada raut bersalah sedikitpun terpancar di wajahnya. Tidak pernah ada bahkan sejak dia pertama kali melontarkan pemikiran gilanya tentang Chanyeol dan Baekhyun. Sama seperti saat dia menantang Chanyeol untuk menyingkap rok Yeri saat kelas tiga SD dulu.

“Aku bukannya santai. Hanya membiarkan segala sesuatu mengalir tanpa beban.”

Yoora terbahak singkat mendengar kata-kata yang keluar dari Chanyeol. “Tanpa beban katamu?” telunjuknya mengarah ke ujung matanya untuk menghapus air mata khayalan yang mengintip di sudut matanya. “Kau tahu? Seharusnya dalam rentang lima hari itu sudah lebih dari cukup untukmu mendapatkan pacar.”

“Dalam mimpimu.”

“Aku serius. Itu seharusnya lebih dari cukup, telinga gajah.”

“Hei.”

“Well,” Yoora tetap melanjutkan tanpa mempedulikan pekikan memprotes dari Chanyeol. “Lain cerita kalau kau terlalu sibuk bergaul dengan pasangan gay mu yang cantik itu. Byun Baekhyun.”

Chanyeol kehabisan kata-kata. Dia hanya diam.

“Lagipula tanpa perlu kau jawab pun, aku sudah tau kalau kau tadi sedang mengirim pesan pada Baekhyun.” Yoora memutar bola matanya malas. Ingin segera mengakhiri pembicaraan konyol yang sebenarnya cukup menarik ini. Senang rasanya menggoda Chanyeol tapi dia tidak ingin membuat Chanyeol sampai marah seperti minggu kemarin lagi. Jadi dia memutuskan berhenti.

Sedangkan Chanyeol, keinginannya untuk membalas kata-kata Yoora sangat besar. Tapi dia tahu kata apapun yang akan dia gunakan sebagai pembelaan, semua pasti mempunyai celah untuk Yoora memojokkannya seperti sapi di pembantaian. Chanyeol sekilas melirik pada televisi. 2NE1 — girlband favoritnya — kini sedang bernyanyi. Ia mengeluarkan kembali ponsel dari sakunya. Selama beberapa detik jarinya sibuk menari-nari di atas keyboard ponsel, mengetik pesan lain untuk Baekhyun. Oh betapa ingin Chanyeol mengganti noona nya dengan wanita lain yang lebih normal lagi. Sandara Park misalnya.


Chanyeol:

Kurasa saudara perempuanku mengalami delusi parah.

Temani aku keluar sebelum dia mengubah parameter kewarasanku.


.

.

.

“Entah kenapa rasanya aku tiba-tiba mengerti.” Chanyeol berceletuk ringan disela seruputannya akan segelas penuh moccacino dingin.

“Apa?” tanggapan singkat Baekhyun sesaat membuat Chanyeol merasa kalau sahabatnya itu sebenarnya tidak begitu tertarik dengan hipotesa yang sejak beberapa detik lalu memantul-mantul di tiap sudut neuronnya.

Tapi ini adalah penemuan penting, jadi Chanyeol tidak begitu menghiraukan kenyataan bahwa pikiran Baekhyun sebenarnya saat ini sedang mengudara jauh hingga berkilo-kilo meter dari pantatnya duduk sekarang.

“Aku tahu kenapa noona ku yang tidak begitu jenius itu bisa menyimpulkan kalau kita gay.”

“Yeah, kau sudah mengatakannya tadi.” timpal Baekhyun, hanya setengah memperhatikan Chanyeol. Matanya tertuju pada para pejalan kaki di balik jendela kaca kafe yang sedang mereka datangi. “Yoora noona terserang penyakit mengerikan yang tidak bisa disembuhkan dan sampai sekarang sepertinya belum ditemukan penyembuhnya dan bisa saja akan berakibat fatal seperti mati mengenaskan bagi orang yang berada di sekitarnya. Dia mengidap delusi parah.” Timpal Baekhyun cepat seolah dalam satu hembusan nafas. “Benar kan?” sambungnya seraya mengalihkan fokus matanya kepada pria tinggi yang duduk di seberangnya.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan mulut sedikit terbuka. Dia diam seakan pita suaranya sudah tidak lagi ada di tenggorokan. Tidak pasti apakah ingatannya yang salah karena dia sama sekali tidak tahu menahu tentang hal yang baru saja diucapkan sahabatnya itu atau memang kemampuan mendramatisir Baekhyun yang sudah di atas rata-rata manusia biasa. Chanyeol memutuskan kalau yang kedua adalah jawaban yang lebih tepat.

“Wow, kau cocok menjadi politisi.” Komentar Chanyeol sambil menepuk tangannya setelah terdiam beberapa detik.

Baekhyun melempar seringai ringan sebagai balasan. Anehnya Baekhyun dan Chanyeol selalu bisa mengerti humor satu sama lain dengan baik meskipun terkadang membingungkan ataupun tidak lucu. Itu semacam sesuatu yang lahir begitu saja selama pertemanan mereka dan sesungguhnya menjadi alasan utama mereka tetap bersahabat selama tiga tahun meskipun hanya sempat sekelas di tahun pertama SMA. Ditambah sifat keduanya yang kurang lebih mendekati, menghilangkan seutuhnya alasan untuk berhenti bersahabat meskipun tidak jarang saling mempermalukan.

“Kita ini sangat menyedihkan Baek.” Chanyeol melanjutkan lagi katan-kata yang sempat tertunda setelah menyeruput sedikit dari gelas moccacinonya. Dia meletakkan gelasnya di atas tatakan dengan hati-hati, menghindari menimbulkan bunyi akibat pertemuan dua materi kaca. “Benar-benar menyedihkan.”

“Menyedihkan? Kau sih sepertinya iya. Aku baik-baik saja.”alis Baekhyun tertaut dan dia memandangi Chanyeol seperti sedang berhadapan dengan sebuah spesies baru yang belum pernah dia temui sebelumnya. Spesies Chanyeol yang berusaha serius dan terlihat putus asa. Pemandangan yang cukup langka.

“Kita berdua ini sama-sama menyedihkan Baek.”

“Apa maksudmu?”

“Yah hanya mencoba memberitahu padamu kalau kau dan aku itu menyedihkan.”

“Tunggu. Tunggu.” Baekhyun berujar cepat. Dahinya berjengit. Dan dia meletakkan telapak tangan beberapa centi di depan hidung Chanyeol. Secara dramatis.

“Aku tahu kalau kau memang menyedihkan dibuat oleh noonamu. Tapi kenapa aku juga dibawa-bawa?” Baekhyun mengernyit. Dengan sengaja menautkan kedua sisi alisnya dan menghujani Chanyeol dengan tatapan menuntut. Seperti sedang meminta Chanyeol untuk membayar hutang dua tahun lalu — saat mereka jajan soda — yang belum dibayar Chanyeol hingga detik ini. Bedanya, saat ini yang dituntut oleh Baekhyun adalah semacam penjelasan bukan uang.

“Lihat saja kita.”

“Memangnya apa yang salah?”

“Seorang pria maskulin dengan sahabat prianya yang cantik.”

Baekhyun untuk kesekian kalinya sejak duduk di bangku kafe hari ini mengerutkan alisnya. Lagi-lagi dibingungkan oleh perkataan Chanyeol yang terlalu sulit untuk dimengerti. Chanyeol memang mempunyai bakat alami membuat orang lain merasa bodoh. Sepertinya sudah ada dalam garis darahkeluarganya. Reaksi Baekhyun menghasilkan pada Chanyeol yang menunduk sesaat, memandangi kakinya sendiri dan tanpa tujuan mengaduk-aduk moccacino yang sudah tinggal setengah di gelasnya.

“Ini hari jumat. Dan kita berdua, sesama pria single, sedang…”

“Stop stop.”

Berganti Chanyeol yang mengernyit. Dia menatap Baekhyun kebingungan dan sedikit risih dengan tangan Baekhyun yang lagi-lagi melayang tepat di depan hidungnya, sedikit menghalangi jalan udara.

“Aku tidak mau dengar Yeol.”

“Eh?”

“Cukup. Jangan kau lanjutkan.” Baekhyun berujar lirih.

“Hah?” Mata Chanyeol membulat sempurna saat mendengar nada suara Baekhyun yang diperlembut sedemikian rupa, mengocok lambung CHanyeol dengan kecepatan maksimum. Chanyeol ingin muntah.

“Jangan Yeol.” Baekhyun masih melanjutkan. “Aku masih normal. Meskipun kecantikanku tidak satupun anak perempuan di sekolah kita yang menandingi, tapi aku tidak bisa menjadi pacarmu.”

“Baek hentikan.” Chanyeol menangkupkan satu telapak tangannya memenuhi wajah Baekhyun. Di matanya tersirat campuran antara rasa jijik sekaligus geli. “Inilah alasan kenapa Yoora menyebut kau dan aku gay.” Chanyeol dengan sengaja menekan pada kata gay.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. “Dasar tidak lucu.”

Sebenarnya Chanyeol bisa saja menanggapi lelucon Baekhyun sambil lalu dan tertawa seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi bahkan untuk berkedut ringan saja bibirnya seperti menolak keras.  Seluruh sel bahkan yang terkecil dalam otaknya seakan berteriak marah menolak untuk menertawai kata-kata Baekhyun. Dia tidak bisa tertawa. Tidak saat saudara perempuannya —yang lebih kandung dari siapapun yang ada di dunia ini dengannya — mencurigai orientasi seksualnya dengan sahabatnya yang jujur saja memang sering dipanggilnya sebagai pasangan gaynya. Lelucon yang dulu bagaikan asupan harian baginya dan Baekhyun tiba-tiba menjadi bukan hal yang bisa ditertawai lagi. Terimakasih kepada kemampuan hebat Yoora untuk memanipulasi otaknya.

“Jadi begini rasanya dicampakkan oleh pasangan gay mu.”

Chanyeol memilih mengacuhkan kata-kata Baekhyun. Tidak satupun yang bermanfaat keluar dari mulutnya. Jauh lebih bijak untuk mengabaikannya di saat seperti ini.

Semenit kemudian sunyi sudah mendominasi di meja mereka. Baekhyun berhenti berceloteh dan matanya bergerak-gerak lincah mengamati orang-orang di luar kafe yang seperti sedang berada di dimensi lain karena kaca tebal yang menghalangi Baekhyun dan orang-orang di luar sana saling terlibat.

Chanyeol disibukkan dengan pikiran-pikiran yang sudah beberapa hari menginvasi tujuh per delapan bagian cerebrumnya. Apakah dia akan bisa meresmikan Baek Sumin sebagai pacarnya dalam tiga minggu. Ditambah lagi teman-temannya (sebenarnya hanya Jongin) mengatakan kalau gadis itu sangat sulit ditaklukkan dan semacam itu. Chanyeol merasa seperti sedang menjalankan sebuah mission impossible. Mungkin Chanyeol bisa menggantikan Tom Cruise untuk seri selanjutnya dari film itu kalau mereka berniat melanjutkan seri itu.

“Yeol kau tidak akan percaya ini,” Baekhyun memecahkan gelembung hening di antara mereka lagi. Menarik Chanyeol keluar dari pemikirannya yang sudah mulai melantur. Sangat jelas kalau Baekhyun tidak akan bisa sejenak saja menikmati kesunyian yang mengalir di sekitar mereka.

“Apa?”

“Arah jam sebelas.”

Chanyeol melayangkan pandangan mengikuti aba-aba Baekhyun. Arah jam sebelas. Seorang pelayan wanita sedang mengepel lantai. Tidak ada yang istimewa. Chanyeol menelengkan kepala sesaat. Apa yang sedang coba ditunjukkan Baekhyun? Dia tidak tahu kalau Baekhyun punya hobi aneh memperhatikan pantat pegawai kebersihan yang sedang bekerja.

“Aku tidak tahu kenapa aku harus melihat pantat pegawai itu.”

Baekhyun memutar kepala mengikuti arah pandang Chanyeol.

Well, walaupun kuakui itu memang cukup seksi,” sambung Chanyeol lagi diikuti siulan. Semacam bentuk apresiasi untuk pemandangan indah yang ditunjukkan Baekhyun hari ini.

“Dasar mesum. Maksudku arah jam sebelasku, om piktor.”

“Oh haha.” Chanyeol tertawa canggung begitu Baekhyun mengoreksi ke arah mana seharusnya Chanyeol melihat. Semburat tipis mewarnai pipinya. Namun berusaha untuk disembunyikan olehnya. Cepat-cepat Chanyeol mengganti arah pandangnya, segera mengeluarkan pantat seksi dari jangkauan pandangan.

“Bagaimana? Apa kau melihatnya?”

Chanyeol berusaha keras memfokuskan matanya saat tetap tidak didapatinya sesuatu yang spesial bahkan di arah jam dua Baekhyun. Dia kembali menatap Baekhyun dan mengedikkan bahu pertanda gagal melihat apa yang dimaksud Baekhyun.

“Kau yakin?”

Chanyeol menggangguk.

“Baju merah.”

Chanyeol sekali lagi berbalik melihat ke arah yang dimaksud Baekhyun dan pemandangan yang dimaksud Baekhyun cukup membuatnya menganga. Di sudut ruangan seorang gadis duduk sendiri dengan segalas cappuccino yang sudah habis lebih dari setengah. Tapi bukan cappuccino itu yang menyita perhatian Chanyeol. Dia segera mengembalikan pandangan pada Baekhyun yang sedang tersenyum menyebalkan di depannya. Chanyeol tidak mau tertangkap basah melihat terlalu lama.

“Mesum,” suara beratnya keluar diiringi kikikan tertahan Baekhyun.

“Dadanya daebak.” ujar Baekhyun diikuti jempol yang terangkat sejajar dagunya. Chanyeol hanya menggeleng pasrah.

“Dan kau menyebutku om piktor.”

“Haha.”

“Dasar. Aku mau ke kamar mandi dulu.”

Chanyeol berdiri dari kursinya dan langsung berjalan menjauh dari meja mereka. Tidak habis pikir dengan kelakuan Baekhyun. Well, masalahnya dari bersahabat dengan sebiji makhluk bernama Byun Baekhyun adalah semua menjadi masalah. Suaranya yang terlalu melengking dan tidak bisa diredam kecuali kau menjahit kedua ujung bibirnya. Sikap jahilnya yang terkadang diikuti dengan kelakuan mesum. Kesukaannya terhadap wanita-wanita yang lebih tua. Eyelinernya yang sudah berkali-kali diberitahu Chanyeol kalau itu terlalu tebal untuk laki-laki. Kakinya yang terlalu kecil. Semua menjadi masalah. Chanyeol bahkan cukup yakin kalau salah satu sekrup otak Baekhyun pasti sudah berkarat atau rusak. Tapi yang paling menjadi masalah akhir-akhir ini adalah noonanya sendiri  menuduh si kurus Byun Baek itu sebagai pasangan gaynya. Dan Byun Baekhyun yang seharusnya adalah sahabatnya tidak sedikitpun membantu menemukan solusi untuk masalahnya sekarang ini. Lalu Chanyeol harus bagaimana?

Dia perlu sedikit mendinginkan kepala. Baik Baekhyun maupun noonanya hari ini sudah cukup menghabiskan energinya untuk hal yang tidak produktif. Chanyeol kehabisan waktu. Tinggal dua minggu dan dua hari dari waktu perjanjian gila dengan Yoora. Dan Chanyeol membuang waktunya hari ini hanya dengan Baekhyun, melakukan hal yang tidak sedikitpun membantu memecahkan masalahnya. Sure, what a day. Sungguh hari yang baik.

“Min-chan, aku tidak mau masuk toilet perempuan.” terdengar suara anak kecil yang entah kenapa terdengar sedikit familiar di telinga Chanyeol saat dia berjalan semakin dekat ke toilet.

“Tapi Min-chan tidak boleh masuk situ Eunjoo.”

Pemilik suara itu dapat dilihat Chanyeol dengan jelas begitu dia berjarak tinggal dua langkah dari dua orang yang menghalangi pintu toilet.

“Tapi aku anak laki-laki. Tidak boleh masuk toilet perempuan.” Bocah yoghurt dari beberapa hari yang lalu ada di situ. Di hadapan Chanyeol. Bersama gadis yang juga bersamanya hari itu.

Deg.

Chanyeol merasa mendengar suara jantungnya sendiri saat menyadari siapa yang ditemuinya sore ini di toilet kafe. Baek Sumin, gadis yang sudah satu minggu ini memenuhi kepalanya.

“Jangan nakal Eunjoo. Ayo cepat masuk atau kau mau mengompol di celanamu?” Baek Sumin terlihat kewalahan membujuk anak kecil di depannya. Tapi bocah yoghurt tetap keras kepala, menolak untuk menuruti perintah gadis cantik Chanyeol. Wajah gadis itu terlihat ditekuk. Dan peluh menetes dari sekitar pelipisnya.

“Maaf.” Suara berat Chanyeol keluar begitu saja tanpa disadarinya. Menarik perhatian gadis  dan bocah yoghurt di depannya. Keduanya menatap Chanyeol bersamaan seperti mengikuti perintah satu konduktor yang sama.

‘Gila. Apa yang kau lakukan Park Chanyeol?’ batin Chanyeol memaki mulutnya yang seenaknya bersuara barusan.

“Eem..” Chanyeol sesaat kehilangan kemampuan berbicaranya saat dua pasang mata memandangnya penuh tanya. “Eem apa kau memer.. ehm memerlukan bantuan?”

Hebat Chanyeol. Kau tiba-tiba lupa cara berbicara.

Hening. Tidak ada yang berbicara. Sumin dan bocah yoghurt hanya menatap Chanyeol dengan pandangan yang tak dapat diterka olehnya. Apakah mereka menganggap Chanyeol aneh? Apa Chanyeol terdengar seperti maniak yang berbahaya? Apa dia seperti modus operandi yang baru? Astaga betapa Chanyeol berharap keramik yang dipijaknya berubah menjadi pasir hisap sekarang juga. Agar dia bisa segera menghilang ditelan bumi. Dia sudah membuat gadis yang disukainya takut padanya bahkan sebelum dia melakukan apapun utnuk menarik perhatiannya. Chanyeol ingin mati sa..

“Ya.”

..ja.

Eh? Apakah seseorang baru saja mengatakan ya?

Chanyeol berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk mengangkat dagu dan memandang gadis di hadapannya sekali lagi.

“Ya, tolong bawa adikku ke dalam toilet. Dia ingin buang air.” Sumin menjawab dengan suara lembut tapi tersirat jelas nada frustasi dalam setiap suku kata yang diucapkannya.

“Ba.. baiklah.” Chanyeol bergerak dengan canggung mendekati bocah yoghurt. “Ayo kuantar.”

.

Apa ini mimpi?

Kaki panjang Chanyeol bergerak gelisah dari pintu pertama sampai pintu keempat toilet itu berulang-ulang. Otaknya disibukkan dengan satu pertanyaan selagi menunggu bocah yoghurt di toilet. Pertanyaan yang persis sama sepertinya sudah berputar di otaknya beberapa hari yang lalu.

Ini terlalu bagus untuk disebut sebagai kebetulan. Dimulai dari pertemuan di kafe, minimarket bersama bocah yoghurt hari berikutnya, drama, bahkan mereka menjadi pasangan di drama yang akan mereka mainkan nanti, dan sekarang Chanyeol bertemu lagi dengan objek cinta sepihaknya di tempat yang tidak terduga. Mungkin sebenarnya dia dan gadis cantik ini berjodoh.

Chanyeol segera menggeleng-gelengkan kepala. Tidak bisa menerima spekulasi yang terlalu jauh itu.

‘Calm down, soldier. Jangan terlalu bersemangat.’ Batin Chanyeol berusaha mengontrol tubuhnya. Chanyeol tidak percaya seluruh tubuhnya seperti sedang berkonspirasi. Jantungnya berdebar tidak karuan dan kerinat dingin tidak berhenti membasahi leher dan kaos baseball yang dia kenakan.

Oh dia harus memberitahu yang lain tentang ini. Chanyeol segera mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat membentuk pola pembuka screen lock dan segera mengetikkan pesan di group chat.


Chanyeol

Kalian tidak akan percaya ini guys

Baekhyun

Astaga Chanyeol, apa kau sedang chat sambil boker?

Pantas saja sangat lama -_-

Chanyeol

-____________-

Jongdae

Eeew selesaikan dulu urusanmu di toilet baru chat kami Yeol.

Jongin

Menjijikkan hyung.

Baekhyun

Rechat Jong (y)

Sehun

Kenapa kau bicara seperti tiu seolah kau tidak sering melakukan hal serupa Black guy? -_-

*itu

Jongin

Diam kau typo guy

Chanyeol

-________-

Jongdae

Hei aku suka panggilan itu Sehun. Black guy XD

Baekhyun

Rechat Jong (y)

Jongin

Jong mana hyung?

Jongdae

Ya, Jong mana Baek?

Sehun

Jong mana hyung? (2)

Chanyeol

GUUUUUYYYYSSSSS

Kenapa kalian malah asik sendiri?

Padahal aku yang mau cerita T^T

Dan dimana Kyungsoo?

Kenapa hanya ada kalian?

Aku butuh Kyungsoo.

Jongin

Jeez orang ini suka sekali spamming-_-

Sehun

Jeez orang ini suka sekali spamming-_- (2)

Jongin

Berhenti meniruku Oh Sehun.

Sehun

Berhenti meniruku Oh Sehun. (2)

Baekhyun

Berhenti meniruku Oh Sehun.(3)

Jongdae

Berhenti meniruku Oh Sehun. (4)

Sehun

Berhenti meniruku Oh Sehun. (5)

Chanyeol

Berhenti meniruku Oh Sehun. (6)

Chanyeol berhenti berkutat dengan ponselnya sejenak. Melihat apakah bocah yoghurt sudah selesai dari toilet. Bocah itu cukup lama juga. Dia memutuskan untuk mengetuk bilik yang tadi dimasuki bocah yoghurt untuk memastikan dia masih ada di sana. Mungkin saja dia ternyata sudah keluar dan Chanyeol tidak menyadarinya saat dia tadi terlalu sibuk dengan diskusi konyol — yang sebenarnya belum ada — bersama teman-temannya. Atau bagaimana kalau bocah itu tenggelam di dalam kloset? Itu akan sangat mengerikan dan sedikit menjijikkan.

Dia mengetukkan buku jarinya ke bilik toilet.

“Apa kau sudah selesai?”

“Sebentar hyung.” Jawaban bocah yoghurt terdengar dari balik bilik dan Chanyeol menghela nafas lega saat mendengarnya. Dia lantas mengembalikan perhatiannya pada ponsel yang sempat diabaikan sejenak. Dan terkikik saat melihat Jongin mencak di group chat.


Jongin

Kenapa aku selalu terbully di grup ini?

Chanyeol

Haha berhenti mengganggu Jongin teman-teman.

Baekhyun

Dan kau berhenti chat di toilet. CEPAT KEMBALI!

Jongin

Astaga kau masih belum selesai juga hyung-_-

Chanyeol

Aku hanya sedang menunggui seorang bocah di toilet.

Baekhyun

Apaaaaa??????

Jadi kau membuatku menunggu lama karena kau sedang sibuk menjadi BABYSITTER DI TOILET?

Jongdae

*gasp*

Jongin

*shocking*

Sehun

*tebs*

Chanyeol

Apa maksudnya tebs Sehun? -_-

Makanya tadi kan aku mau cerita.

Tapi kalian tidak mau mendengar.

Baekhyun

Baiklah kami akan mendengar.

CERITAKAN BERAPA GAJIMU DARI BABYSITTING DI TOILET.

Sehun

*tebs, tea with shocking soda* 😀

Kyungsoo

Apa? Siapa yang menjadi babysitter? Dan apa hugungannya dengan tebs? -_-a

Chanyeol

Ahirnya kyungsoo-_-

Kyungsoo

Kenapa denganku?

Jongin

Tidak kenapa2 hyung.

Kami hanya sedsng membicarakan Chanyeol hyung yang menculik anak orang di toilrt.

Sehun

JONGIN TYPO

Jongdae

*watching with popcorn*

Chanyeol

Aku tidak menjadi babysitter.

Aku hanya mengantar adik Baek Sumin ke toilet.

ADIK BAEK SUMIN.

Jongin

Asdfghjkl

Sehun

Imaaajinasi haha

Baekhyun

Biarkan Chanyeol berimajinasi

Jongdae

Kurasa kita harus cepat-cepat latihan drama supaya kau tidak berdelusi lagi 😦

Chanyeol

Tidak percaya?

Jongdae

Nope. Not in a million years :p

Kyungsoo

Lagipula dimana kau bisa bertemu dengan adik Sumin?

Chanyeol

Aku tidak berbohong teman-teman.

Jongin

Aku juga pernah mengalami hal seperti itu hyung. Dengan Soojung:(

Cinta tidak terbalas memang menyakitkan.

Sehun

Berhenti menjadikan group chat ini sebagai ajang curhat hitam.

Tidak ada yang peduli denganmu.

Jongin

Jangan pernah bicara denganku lagi cadel.


Chanyeol segera menutup kembali ponselnya dan menempatkannya di saku celana saat dia mendengar suara siraman di toilet. Ada rasa tidak puas dan kesal yang mengganjal karena teman-temannya menyebutnya berimajinasi. Apa dia terlihat semenyedihkan itu? Chanyeol yakin tidak. Dia hanya butuh sedikit waktu untuk bisa mengenal Baek Sumin secara pribadi. Mereka akan menyesali kata–kata mereka kalau nanti Chanyeol resmi berpacaran dengan Sumin. Karena mereka tidak akan dapat traktiran dari Chanyeol nanti. Tapi kapan itu akan terjadi?

Bocah yoghurt muncul dari balik pintu di hadapan Chanyeol beberapa saat kemudian. Memandang Chanyeol dengan kepala ditelengkan.

“Sudah?”

Bocah yoghurt mengangguk diam.

“Ayo.” Sambil tersenyum Chanyeol meraih tangan bocah itu dan membawanya keluar dari toilet.

Saat pintu toilet terbuka sempurna, Chanyeol langsung berhadapan dengan Baek Sumin yang sudah berdiri di balik pintu toilet entah untuk berapa lama. Dia bernafas lega begitu melihat bocah yoghurt yang berdiri di balik kaki jenjang Chanyeol.

“Baek Eunjoo.”

Chanyeol tertegun saat mendapati gadis itu menarik lengan bocah yoghurt dan menyeretnya ke sisinya sambil menyebut nama bocah itu dengan terengah menyiratkan kekhawatiran yang jelas. Kenapa dia harus khawatir sedangkan dia sendiri yang menyerahkan bocah yoghurt untuk dibawa Chanyeol masuk toilet. Chanyeol semakin terperangah saat Sumin melemparkan tatapan yang tidak dapat diartikannya, seolah sedang berusaha mencari sesuatu di balik jeans lusuh Chanyeol. Menyebabkan Chanyeol sontak kehilangan kontrol diri di hadapan iris gelap itu. Dia dengan jelas merasakan semburat merah yang menjalar memenuhi kedua sisi pipinya dan tungkainya entah karena alasan apa terasa tidak sanggup menopang berat badannya. Chanyeol merasa seperti tengah ditelanjangi tatapan gadis itu. Dan dia tidak mengerti kenapa.

“Terima kasih.” Adalah satu-satunya yang diucapkan gadis cantik sebelum berlalu meninggalkan Chanyeol yang belum sadar sepenuhnya.

The hell? Apa yang baru saja terjadi?

Chanyeol tidak berpindah seinci pun dari pijakannya bahkan setelah punggung Sumin yang terusdipandanginya tadi sudah menghilang dari pandangan. Tidak mengerti dengan apa yang barusan terjadi. Semua terjadi begitu cepat. Seperti laju kereta listrik. Apakah gadis cantik yang disukainya baru saja memandangnya seolah dia sedang berusaha menculik bocah yoghurt? Tapi gadis itu juga mengucapkan terima kasih. Lalu? Apa arti tatapannya?

Chanyeol masih akan berdiri di tempat yang sama, dengan pertanyaan yang berseliweran di kepala kalau bukan karena getaran ponselnya. Belum sepenuhnya sadar, Chanyeol tetap menggerakkan tangannya mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jarinya bergerak membuka kunci pola dan mengusap layar ke bawah untuk melihat pemberitahuan yang baru masuk.

Tiga pesan pribadi dari Jongin.


Jongin

Hyung, berita buruk dari sumber yang sebenarnya kurang meyakinkan.

Katanya ayah Baek Sumin itu pedophile dan dia sendiri obsesif kompulsif.

Aku tidak tau benar atau tidak ._.v


Holy cow! Apa maksudnya itu?

-tbc-

Hola kakak adik. Aku minta maaf ini ngepost lewat deadline juga.Ditambah lagi part ini rasanya gimana gitu haha. Gajelas alurnya mau kemana dan diksinya juga aneh. Maaf ya kalau ceritanya gak memenuhi ekspektasi kalian.  Kemarin aku sempat minta tukar posisi tapi akhirnya aku tetap ngelanjutin bagian ini yah walaupun ceritanya seadanya ._. Sekali lagi maaf ya kalau bagian ini jelek.

Makasih buat Kaila yang udah mengiutsertakan aku dalam projek FF berantai ini. Ini pengalaman baru buatku. Menulis dengan para author yang lebih baik dan punya style nulis yang beda-beda. Dan well ternyata gak semudah yang kubayangin.

Untuk selanjutnya aku berharap Irasssdd bakal memperbaiki kekacauan yang aku buat di bagian akhir part ku wkwk. Untuk teman yang lain juga semangat yah ngelanjutinnya ^^

xoxo

Tamiko

Advertisements

141 thoughts on “[FF Berantai] Flechazo : Puzzled

  1. Hahahaha….
    Ini cerita makin geje kalo udah berhubungan sama chat gruop nya mereka…
    Geje abis tp menghibur…dasar para cwo yg haus cwe….hehehehe…
    Gonawoyo

  2. Oke masalah baru muncul nih, ayahnya Sumin pedofil apa itu sebabnya dia menggeledah Chanyeol waktu dia keluar dari rumah sakit? oke oke ini lumayan masuk akal sih, Terus kalo menurut aku kebetulan-kebetulan yang terjadi nih (Chanyeol ketemu sama Sumin ditempat gak terduga) fix sih Chanyeol sama Sumin jodoh berdua haha….

  3. obsesif kompulsif itu apa?? … Jdoh emang gk k mna yeol 😀 gk sabar pengen liat mereka jadian hahahaha…

  4. selalu suka tiap bagian chat room 😀 si kkamjong dibully mulu :v jongin dapet info darimana tuh tentang ayahnya sumin -,

  5. Benarkah ayah sumin pedofil? Makanya dia khawatir kayak gitu? Makin penasaran sama alur ceritanya nih.
    Keep writing and fighting, kak ^^

  6. anyeong

    woooe ,, ya ampun mengejutkan sekali , pantas saja sumin melihat chanyeol seperti itu , dan lagi si chanyeol kelihatan terlalu sulit(?) atau karna terpana? jika dihadapan sumin, hehe
    beneran nii ngakak deh kalau sudah berhubungan dengan anggota band itu , ada comedinya , keren ,keren

    @_@+fighting

  7. Pingback: dafun sefun
  8. Seru bgt. Aku paling suka baca chat mereka. Itu bnr2 spt nyata. Pokoknya bgs deh. Oh ya, part3 di protek ya? Aku ga bisa buka krn aku ga punya blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s