[SERIES] PUZZLE : ROCKING HARMONY

cute-fashion-girl-headphones-Favim.com-490748

by Tamiko

Ficlet || Park Chanyeol & OC || Romance || PG

Previous : c’est l’aveu

Summary : Seperti irama musik rock favorit gadis itu, detak jantung Chanyeol.

The nice thing about doing a puzzle is, you know there is a solution – Stephen Sondheim

ℑζ

Telunjuk dan jari tengahnya bergerak ritmis secara bergantian. Diketuk-ketukkan di atas meja kayu dan kepalanya bergerak bebas mengikuti irama musik yang mengalir di sepanjang telinganya.

Ha. Yeri suka kata-kata itu. Mengalir di sepanjang telinganya. Terdengar otentik dan romantik.

“Berhenti menganggukkan kepalamu Lee Yeri.” Sebuah suara berat dan tangan besar yang menangkup kepala Yeri menghentikan pergerakan kepala gadis itu. Headphone dilepas dari telinganya secara paksa oleh tangan yang sama tidak lama berselang.

Tentu saja pemilik suara berat yang sudah tidak diragukan lagi adalah Park Chanyeol itu akan berpikir kalau adalah ide bagus untuk mengusik ketenangan hari ini dan memaksa Yeri meneriakinya dengan sumpah serapah.

“Park Chanyeol aku bersumpah akan membunuhmu kali ini.” Mata gadis itu dipelototkan sedemikian rupa, dipaksa membesar jauh melebihi ukuran aslinya. Hanya untuk memberikan kesan menakutkan di hadapan Chanyeol.

Namun alih-alih ekspresi ketakutan, malah tawa yang sedikit terlalu keras dengan suara yang terlalu bass yang didapat Yeri dari Park Chanyeol. Ditambah dengan badan si giant yang membungkuk dan tangan ditenggerkan di depan perutnya—menunjukkan betapa terhibur Chanyeol dibuatnya—seolah-olah Yeri baru saja melemparkan salah satu lelucon terbaiknya di hari yang cerah.

Tapi hari ini tidak cerah, awan kelabu yang nampak dari jendela itu buktinya. Dan Yeri tidak sedang ingin berlelucon. Terutama dengan Park Chanyeol.

“Kembalikan itu,” ujarnya dengan jelas menunjukkan rasa kesal.

“Apa?”

“Benda yang adalah milikku tapi sekarang sedang ada di tanganmu.”

Chanyeol hanya tertawa renyah sebagai balasan. Tanpa sedikitpun niat untuk menuruti kata-kata gadis itu, dia malah meletakkan pantatnya dengan santai di atas sofa yang bukan miliknya. Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun tergambar di mimiknya, Chanyeol malah memasang benda yang diminta gadis itu di kedua sisi kepalanya. Membiarkan nada melantun langsung menuju gendang telinganya.

Wake me up inside. Wake me up inside. Call my name and safe me from the dark.

Kedua alisnya ditautkan menimbulkan kerutan jelas terbentuk di dahinya. Chanyeol membuka matanya melihat kepada Yeri yang memandanginya seolah akan memberi sebuah lubang di otak Chanyeol.

“Lagu apa ini? Tidak pernah kudengar sebelumnya.” Suara berat itu bertanya ringan mengikuti gerakan tangan yang melepas headphone dari telinganya.

Yeri —masih persisten dengan tatapannya kepada Chanyeol— menghela napas dengan wajah tertekuk. Tapi tetap menjawab. “Bring me to life. Evanescence.”

“Aku bahkan tidak pernah dengar nama penyanyi itu. Evan siapa tadi? Wow lelaki itu memiliki nama yang unik.” Lalu dia tertawa ringan seolah Yeri baru saja mengatakan sesuatu yang konyol.

Tsk. Laki-laki ini cari mati.

Yeri dengan malas melangkahkan kakinya sehingga ia berdiri tepat di hadapan giant idiot itu. Tangannya ditadahkan beberapa centi di depan hidung Chanyeol.

“Apa?”

“Kembalikan.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” Chanyeol dengan keras kepala menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu siap-siap untuk say goodbye pada wajah cantikmu.”

“Hahaha.”

Tiga kali. Dalam beberapa menit Chanyeol sudah tertawa padanya sebanyak tiga kali. Really? Apa dia benar-benar terlihat seperti orang yang bisa ditertawai saat ini? Atau salah satu syaraf kepala Chanyeol sebenarnya sedang demam. Syaraf yang mengendalikan selera humornya. Sehingga semua hal terasa lucu baginya.

“Rasanya aku semakin terbiasa dengan ancamanmu.” Chanyeol tertawa lagi. Kali ini diiringi dengan gelengan kepala. Pasti dia betul-betul menganggap lucu ancaman Yeri tadi. SUngguh pria yang benar-benar insufferable. Tidak dapat ditoleransi.

Yeri menarik kursi lain yang ada di dekatnya untuk diduduki. Ekspresi kesal masih belum meninggalkan kepalanya.

“Jadi?” ujar Chanyeol, menatap tepat pada manik mata gadis yang baru saja duduk itu.

Yeri berkedip. Bingung. “Jadi?”

“Lagu apa ini sebenarnya yang sedang dinyanyikan oleh si Evan ini?”

Yeri memutar bola matanya malas. Lucu bagaimana dia bisa memutar bola matanya sampai ratusan kali setiap kali dia sedang di tengah percakapan konyol dengan Chanyeol. Kecuali kali ini itu tidak begitu konyol.

Ayolah Yeri. Dia hanya menanyakan tentang lagu. Stop overreacting.

Yeri menghembuskan hampir seperempat udara dari paru-parunya sebelum mulai bicara. “Pertama-tama dia bukan pria. Dan itu Evanescence. E-va-ne-sens.”

“Evanesens?”

“Ya. Dan itu nama Band. Bukan nama seorang pria.”

“Oh ya? Kenapa aku baru tau itu?” Chanyeol mengernyitkan dahinya. Tindakannya itu membuat pertanyaannya menjadi begitu nyata. Seperti itu adalah hal yang tidak wajar jika Chanyeol tidak mengetahui fakta yang baru saja dikatakan Yeri.

“Eng, karena mereka tidak begitu terkenal? Kau tau, mereka hanya mengeluarkan sedikit album. Wajar saja.”

“Tapi kau tahu tentang mereka. Sedangkan aku tidak.” CHanyeol menimpali lagi. Terdengar sedikit keras kepala.

“Bukan masalah besar. Hanya karena kau tidak tahu tentang mereka, bukan berarti dunia ini berakhir Yeol.” Sekali lagi bola mata Yeri diputar dengan sengaja mengekspresikan kejengahannya. Chanyeol bisa menjadi menyebalkan kadang-kadang. Tidak. Coret itu. Chanyeol bisa menjadi menyebalkan setiap waktu.

“Tentu saja itu masalah.” Pria tinggi itu tiba-tiba bangkit dari sofa. Dan langsung mencengkram kedua lengan Yeri dengan tangan besar itu. Ini membuat Yeri terkejut. Chanyeol menatap mata Yeri dengan serius.

“Yeri-ah, apa kau menyukai band ini?”

“Y-ya.” Masih bingung, Yeri tetap berusaha menjawab Chanyeol meski sedikit terbata.

“Apa mereka band favoritmu?” Bertanya lagi seraya mengguncang-guncang gadis itu.

“I..ya. Sepertinya.”

“Baiklah.” Chanyeol melepas cengkramannya lagi dengan tiba-tiba—setiba-tiba ia mencengkramnya tadi. “Ini. Kukembalikan.” Headphone milik Yeri dikembalikan kepada pemilik aslinya.

Chanyeol berlari keluar ruangan tanpa berkata lebih jauh lagi. Meninggalkan Yeri yang masih tercengang dan hanya memandang punggungnya yang segera menghilang di balik pintu.

“Bagaimana bisa aku menyukai orang seperti itu?” bisiknya tidak pada siapa-siapa kemudian.

.

.

Chanyeol berkutat di depan komputernya dengan headset menempel terus di telinganya. Begitu kembali dari rumah Yeri di sebelah, yang dilakukannya seharian adalah bermain-main dengan mouse dan keyboard seperti pshyco.

“Kenapa aku sama sekali tidak tahu?”

“Oh ini lagu yang bagus.”

“Ugh terlalu keras.”

“Apa mereka band heavy metal?”

“Hem suara perempuan ini kenapa bisa begini?”

“Kenapa selera Yeri band rock seperti ini?”

Dia bergumam sendiri seraya mendengarkan setiap lagu yang baru saja diunduhnya. Dan juga masih berusaha mengunduh beberapa lagu yang tersisa.

Malam ini dia akan mendengarkan semua lagu yang dinyanyikan oleh band rock ini. Mempelajari setiap liriknya dan arti dari lagu yang disukai gadis tetangganya itu. Semua. Tak ada yang boleh tertinggal.

Meski telinganya tidak terbiasa dengan aliran musik itu tapi Chanyeol akan bisa terbiasa nanti. Dia harus bisa. Karena ini adalah Yeri. Yeri yang disukainya menyukai musik ini. Band ini. Jadi dia juga harus menyukainya. Logika yang aneh dan terdengar sedikit nyentrik. Ya, ia sendiri mengamini hal itu. Tapi Chanyeol idak bisa berhenti. Meski Yeri selalu menganggapnya mengganggu. Meski dia tidak tahu apa isi hati Yeri. Setidaknya dia ingin mengerti hal yang disukai Yeri.

Chanyeol menutup mata dan membiarkan nada asing yang baru didengarnya memukul-mukul gendang telinga. Suara Amy Lee bernyanyi berganti menjadi suara Yeri di dalam otaknya.

When you cried I’d wipe away all of your tears, when you scream I’d fight away all of your fears. And I held your hand through all of these years. But you still have all me.

Matanya terpejam. Ujung bibirnya tertarik simpul, membentuk sebuah senyum. Lirik yang cocok untuk Kim Yeri.

ℑζ

A/N : Tell me what you think about this 🙂

Advertisements

18 thoughts on “[SERIES] PUZZLE : ROCKING HARMONY

  1. bagus…klo boleh kasih saran jgn terlalu sering menggunakan kata ” nya ” … ini rangkaian katanya udah bagus.. tp karna author terlalu bnyak menyelipkan kata “nya” jd sedikit nggk enak… itu menurut aku… ^..^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s