[BOOK REVIEW] How to Love Indonesia by Duma M. Sembiring

cover-hbagaimana-cara-kita-mencintai-indonesia

Judul: How to Love Indonesia

Penulis: Duma M. Sembiring

Penerbit: Tiga Serangkai

Cetakan pertama: November 2014

Jumlah Halaman: 274 halaman

Tahun Terbit: 2014

ISBN: 978-979-045-774-4

Genre:

Format: Paperback

Ω

Aku bukan manusia yang cinta tanah kelahirannya. Sebab, bagiku tidak ada guna aku mencintai negeri ini. Berbeda halnya dengan ibuku, aku sangat mencintainya. Dalam hidup ini, dialah manusia yang paling berharga. Jika bukan karenanya, aku tidak akan melihat dunia ini. Aku tumbuh dalam kelembutan belaiannya. 

Seiring waktu berjalan aku mulai tahu apa yang seharusnya kulakukan, yaitu mengerti lebih dalam apa arti negeri ini bagiku. Dan semua itu dimulai dari kata “Ibu”. Seorang anak tak sepantasnya bertanya pada dunia, ”Apa yang sudah ibu berikan padaku?” Sebab, meski pertanyaan itu tidak diajukan, jawabannya sudah lebih dulu diketahui. Artinya, pertanyaan itu tidak berguna. Hanya orang bodoh yang akan mengajukannya. Sebagai anak, akan terlihat lebih pintar jika ia bertanya, “Apa yang sudah kuberikan pada Ibu?”

Sadar atau tidak, ternyata tanah kelahiranku sama dengan ibuku. Ada akhirnya, aku mengerti apa maksud dari pertanyaan JohnF. Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan pada negaramu.”

Dea mahasiswa 18 tahun yang masih belum dewasa secara batin menjadi tokoh utama dalam buku ini. Buku yang menjadi juara 3 lomba menulis dengan tema “Seberapa Indonesiakah dirimu” ini mengangkat kisah tentang gadis 18 tahun yang kurang mencintai bahkan hampir sama sekali tidak mencintai budaya yang dia miliki. Dea merupakan gadis Karo yang tinggal di Medan—sama sekali tidak jauh dari daerah asalnya.

Tokoh utama kita ini sering mengejek tetangganya yang tidak begitu ia sukai, seorang pria lajang berumur 35 tahun dengan sebutan Topi Koboi. Alasannya karena tetangga itu suka memakai topi seperti koboi. Ketidaksukaan Dea pada Topi Koboi didasari oleh keanehan dari Dobe—paman topi koboi itu. Ditambah dengan hobi pria itu menatap kakak Dea yang berumur dua puluh tahunan. Tapi kemudian diketahui kalau yang disukai oleh topi koboi bukanlah kakaknya melainkan Dea sendiri dan cerita berlanjut.

Buku ini dapat dikatakan cukup bagus karena memang meraih juara ketiga dalam lomba menulis buku “Seberapa Indonesiakah dirimu”. Namun sayangnya saat membaca buku ini tidak dapat dikatakan begitu menyenangkan bagi saya. Ada beberapa poin yang membuat saya tidak puas ketika membaca buku karangan Kak Duma ini.

  • Judul

How to Love Indonesia bukan judul yang terlalu bagus untuk sebuah novel. Tidak ada sisi menarik dari judul ini. Kesannya malah buku ini seperti bukan novel melainkan buku biografi dan sebagainya.

  • Ide yang terlalu biasa

Tema tentang bagaimana mencintai Negara ini agaknya sudah terlalu biasa sekarang. Tidak hanya sekali dua kali saya menemukan buku-buku yang berusaha menggodok perihal mencintai negara ini. Dan ini menjadi kesekian kalinya saya menemui ide tentang seorang anak perempuan yang kurang paham akan budaya dan juga perihal Negara yang dia tinggali. Bumbu cerita cinta juga tidak membuatnya lebih baik lagi. Akan dijelaskan di poin berikut.

  • Fantasi yang terlalu liar

Semua orang suka dengan percintaan. Well, most of people does. Tapi percintaan yang terlalu eksplisit—terutama untuk pembaca pemilih seperti saya—terlalu membosankan. Keklisean dalam percintaan antara karakter Dea dan Dobe dalam cerita ini membuat saya tanda kutip muak. Begitu banyak adegan yang janggal dan kurang bisa diterima oleh otak saya yang begitu menginginkan sebuah kisah cinta yang tidak pasaran. Karena ini bukan teenlit, jadi wajar saja jika pembaca mengharapkan lebih. Ada beberapa adegan yang membuat saya merinding—not in a good way.

“Ah, benar yang dia katakan, Bi. Tapi, Paman sering mendengar pria berusia tiga puluh lima tahun ke atas menikah dengan gadis berusia delapan belas tahun,” katanya, kemudian menyeringai. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Yang pasti seringaiannya itu menjijikkan. (hlm 29)

Dan ini

“Tunggu!” itu Topi Koboi. Dia berdiri di sebelahku. “Aku ingin bicara sebentar saja. Dengarkan…” Aku melihat semua orang siap mendengarkan perkataannya. Kakakku sudah menegakkan kepalanya, ibuku berhenti senyum-senyum, serius.

“Dari awal kalian berpikir aku menyukai Dio, padahal sebenarnya tidak. Aku tidak mau kalian salah sangka lagi. Hari ini aku akan beri tahu siapa orangnya.”

…..

“Dea,” panggilan lembutnya itu membuat darahku mendidih, dalam sekejap beribu bunga bermekaran dalam hatiku. Apa artinya sseorang yang dia bicarakan adalah aku? (hlm 113-115)

Bukan karena apa-apa. Mungkin adegan ini akan menjadi romantis kalau ditemukan di teenlit yang pembacanya adalah remaja-remaja tanggung umur tiga belas tahun sampai tujuh belas. Tapi tidak. Ini adalah bacaan umum. Dan percakapan di atas terjadi di meja makan.Pagi hari. Dengan ayah, ibu, sahabat Dea, Dea sendiri, dan Dobe. Dan ini adalah pengakuan cinta dari pria tiga puluh lima tahun kepada gadis delapan belas tahun. Menyeramkan.

Lalu yang paling janggal adalah ini.

Akhirnya penantianku usai sudah, ibuku membawa piamaku yang berwarna biru muda dengan… Apa? Ini bukannya….? Aku tidak punya piama yang seperti itu.

“Lho? Ini punya siapa?” tanyaku heran.

“Mamak tadi belanja dengan Dobe. Ini sama dengan yang dipakainya tadi. Manis, kan?” Apa?! “Sebenarnya kami juga ingin membelikan untuk Dio, tapi tinggal dua.” Mataku masih membulat sempurna dengan mulut yang menganga. “Bagaimana menurutmu?”

“Kenapa ini tidak diberikan pada Kak Dio saja? Aku tidak mau. Ini baju bagi pasangan suami istri. Aku tidak mau,” kataku menolak. Aku tidak mau pakai piama itu, walaupun dia tampak manis. Hanya dengan melihatnya sekejap saja aku tahu itu pasti untuk pasangan kekasih atau suami-istri.

“Pokoknya kau harus pakai. Tidak ada kata tidak. Harus, titik.”

“Aku keluar sekarang!” kataku seraya melangkahkan kaki hendak keluar dari kamar mandi.

“Mamak menyembunyikan semua pakaianmu. Pakai ini atau tidak sama sekali!” kata ibuku sukses menghentikan gerakan kakiku. Ibuku menang. Ternyata inilah yang membuatnya lama, bukan memilih pakaian, tapi menyembunyikan semua pakaianku. (hlm 54-55)

Terlalu impossible dan tidak dapat diterima. Entahlah, adegan di atas terlalu janggal dan tidak dapat dibayangkan untuk terjadi dalam kehidupan nyata. Ini yang aku maksud dengan fantasi yang terlalu liar. Apa ibu-ibu jaman sekarang akan menyembunyikan seluruh pakaian anaknya dari lemari (kemana?) hanya agar anak yang dimaksud memakai piama yang couple yang dibelikan seorang pria 35 tahun yang jelas-jelas mengincar anaknya? I don’t think so. Kecuali otak ibumu sedikit tidak beres. Sorry not sorry.

  • Seperti sebuah diari

Sudut pandang yang digunakan Kak Duma dalam buku ini adalah sudut pandang orang pertama pelaku utama. Ada nilai tambah dan juga kurang untuk penggunaan sudut pandang ini. Di satu sisi penggunaan sudut pandang orang pertama paling mengena untuk tema ini, karena memang menceritakan perjalanan tokoh Dea untuk akhirnya mampu mencintai negara ini. Untuk menonjolkan kesadaran moral itu, memang paling tepat jika menggunakan sudut pandang ini. Namun ranjau di sisi lain adalah dengan sudut pandang orang pertama dipadukan dengan diksi yang kurang memadai, akhirnya buku ini malah menjadi seperti curhatan pengarang. I wonder if this is her true story.

Namun selain yang sudah disebutkan di atas, tentu saja buku ini juga mempunyai nilai tambah tersendiri.

  • Karakter Dea

Mungkin di atas aku sudah cukup mencela bagaimana cerita ini menceritakan kisah cinta dari pria 35 tahun dengan gadis 18 tahun. But, Dea makes it more real. Dea yang tidak serta merta menerima kenyataan pria 35 tahun ini menginginkannya adalah satu bagian yang membuat aku terus membaca cerita ini. Walaupun pada akhirnya aku kecewa dia tetap jatuh cinta dengan Paman Topi Koboi.

  • Suri the beaver

Kehadiran sahabat Dea ini selalu memberikan rasa baru selama membaca runtutan cerita. Suri, gadis Jawa yang menyukai budaya tempat tinggalnya. Suri yang peduli dengan Indonesia. Suri yang begitu menyayangi sahabatnya. Suri, your favorite bitch lol.

“Diam kau Burung Beo!”

“Kau yang harusnya diam, Bayi Ular. Nama itu hanya aku yang boleh menyebutnya, bukan kau!” Suri mewakiliku membalas bentakan Putri.

See?

“Ka..kalau kubilang aku menyukainya, kau akan bilang apa?”

“Bagus! Edo saat ini membalas perasaanmu yang dulu. Sekarang perasaanmu bukan untuk Edo lagi. Itu artinya kau bisa bilang pada Edo, ‘Maaf, ya, kau bukan tipeku,’ seperti apa yang dia katakan waktu kau bilang suka padanya.”

Suri menjadi karakter favoritku dalam buku ini.

  • Nilai-nilai moral yang disampaikan

Tidak dipungkiri bahwa ini memang sebuah buku tentang bagaimana mencintai Indonesia. Buku ini sarat nilai moral. Meski terkadang terkesan menggurui, namun penyisipan nilai moral yang cerdas dalam adegan-adegan di buku ini cukup menggugah. It becomes 3rd winner for a reason, you know.

Banyak nilai moral yang disampaikan dalam buku ini. Dan aku akan mengutip salah satu paragraf di halaman akhir buku ini.

Itulah gunanya aku diberi pelajaran. Aku menyayangi ibuku, tapi tidak peduli pada negaraku. Anak durhka aku ini. Indonesia adalah ibu dari ibu yang memelukku. Bagaimana bisa aku mengabaikannya?

Secara keseluruhan, buku ini cukup menarik dan enak dibaca meskipun masih begitu banyak lubang-lubang ranjau yang menjadi kelemahannya. Tapi aku tetap mengacungkan jempol buat Kak Duma yang saat menulis ini mungkin masih 17 atau 18 tahun. Dia cukup berhasil menciptakan cerita dengan tema yang kebanyakan penulis muda hindari.

Satu lagi, dengan membaca buku ini sedikit banyak menyadarkanku bagaimana harusnya bersikap pada negara ini. Ayo menjadi agent of change. Buat negara ini lebih baik lagi daripada menunggu orang lain memperbaikinya. Jangan melulu mengkritisi pemerintah. Jangan tanyakan apa yang negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan pada negaramu :).

Untuk selanjutnya, aku menantikan ide yang lebih cemerlang dan tulisan yang lebih rapi dari Kak Duma.

Anyway, I still recommend you to read this book. Have a good read 🙂

Salam

Aku

Review ini diikutkan dalam

lucky no15

Kategori : Who Are You Again?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s