SHATTERED

ikk

by Tamiko

Ficlet || Sehun Kai Krystal || Sad Romance || PG 15

I don’t give a fuck, not giving up, I still want it all — Troye Sivan

.

.

Setahu Sehun, kata patah hati sama sekali tidak masuk akal. Hati tidak patah seperti ranting akasia yang satu per satu lepas dari pohonnya. Dan jika hati benar-benar bisa hancur, maka seharusnya manusia yang mengalaminya sudah tidak bernapas lagi. Hatinya tidak hancur. Sama sekali tidak. Itu yang Sehun paksa untuk dipercayai oleh logikanya.

Tapi dia tidak bisa melupakan satu memori dari sudut cerebrumnya. Entah memori itu yang membandel atau memang otak Sehun yang tidak mau membiarkan memori itu menjauh dari jangkauan kepalanya yang kecil. Yang mana saja membuat Sehun hampir gila.

Kedua sudut bibir yang tertarik lalu membentuk pelangi terbalik di wajah itu. Sehun ingin melihatnya lagi dan sejujurnya ini bukan waktunya untuk itu. Ah dia memang selalu menginginkan segala sesuatu di saat yang tidak tepat.

“Apa kau ini idiot?” cerca Kai padanya berjuta-juta kali. Kai adalah satu-satunya orang yang memanggilnya idiot hampir setiap waktu. Karena itu hubungan mereka tidak pernah baik. Karena mulut Kai terlalu tajam dan hati Sehun terlalu lemah untuk mengatasi kata-kata Kai. Tapi dia tidak bisa lebih setuju lagi dengan Kai hari ini. Dia adalah seorang idiot.

Dering ponsel yang tergeletak sembarang di atas nakas sudah bolak-balik memenuhi kamarnya sejak sepuluh menit yang lalu. Dia memilih mengabaikannya saja. Dia takut untuk mengangkat ponselnya dan mendengar suara dari seseorang yang menjadi alasan perih di dadanya sekarang.

Tapi ponsel itu tidak berhenti berbunyi dan itu hanya membuat Sehun semakin gila. Dengan malas dia menyeret pantatnya ke ujung tempat tidur dan memanjangkan tangannya untuk meraih benda persegi itu. Dia menunggu selama beberapa detik sampai ponselnya berhenti berbunyi.

Ada 14 panggilan tidak terjawab dan dua puluh tujuh pesan yang belum dibaca dari massengernya. Dan dia tahu dari siapa semua panggilan dan pesan-pesan itu berasal. Krystal. Mungkin gadis itu ingin meminta maaf atau mungkin sekedar menertawai kebodohannya saja. Ponselnya berbunyi sekali lagi menunjukkan satu panggilan masuk di layar dari orang yang sama. Dan dia sekali lagi membiarkan ponsel itu terus berbunyi sambil memandangi nama Krystal berkelap-kelip di layar ponselnya.

Setelah nada deringnya berhenti berbunyi, Sehun membuka massanger dan membaca satu per satu pesan dari gadis yang sama.

Sehun maafkan aku.

Aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu.

Aku tidak tahu kau akan ada disitu.

Sehun angkat teleponmu.

Kumohon.

Aku minta maaf.

Sehun jawab.

Lalu pesan yang sama sampai ke bawah. Sehun mendengus. Bukan maaf yang diinginkannya. Bahkan dia sama sekali tidak menginginkan penjelasan.

Dia hanya menginginkan hatinya.

Tapi hanya maaf dari Krystal yang dia dapatkan dan itu sama sekali berbeda dengan apa yang diinginkan Sehun.

Lucunya adalah Sehun bermimpi tentang sebuah masa depan. Sebuah rumah di bukit dengan kolam renang yang luas (karena orang itu sangat menyukai kolam renang). Dia bermimpi tentang gadis kecil dan bocah-bocah dengan nama yang sudah dipikirkannya jauh hari. Carla, Joy, Marco, Bart. Dia bermimpi tentang gadis kecil berambut ikal pirang dan mata biru (dia selalu ingin punya anak perempuan seperti itu) dan bocah cilik berambut hitam dan bibir tebal. Dia bermimpi tentang malam-malam yang tenang bersama orang-orang yang mungkin akan dipanggilnya keluarga beberapa tahun yang akan datang.

Tapi memang siapa dia merancang sebuah masa depan dengan orang yang tidak tertarik.

“Kau ini betul-betul hopeless!” Kai akan berkata setiap kali. Dan Sehun hanya tersenyum getir menelan setiap suku kata yang diucapkan pemuda itu.

Ada kalanya Sehun merasa begitu tergoda untuk menjawab dan mengembalikan setiap kata-kata sinis Kai tapi dia selalu akan mengingat bagaimana dia tidak berhak untuk melakukannya karena Kai benar. Kai sangat benar. Sehun adalah seorang idiot dan dia tidak tertolong.

Karena itu pula saat Kai dengan bangga menggandeng Krystal dan mencium bibirnya saat mereka berkumpul tadi siang, Sehun hanya bisa menelan ludahnya sendiri bersama seluruh sakit hati yang membuncah dalam dirinya. Begitu pula dengan rasa iri.

Sehun tiba-tiba muak. Perutnya bergemuruh ingin memuntahkan seluruh burger king yang baru saja masuk dalam sistemnya. Dia cepat-cepat permisi kepada teman-temannya dengan alasan ibunya meminta dia untuk mengantar ke arisan. Tapi Sehun tahu kalau Krystal dan Kai sadar alasan dia pergi adalah mereka berdua.

Telepon dan pesan bertubi-tubi dari Krystal adalah buktinya. Semua kata maafnya membuat lambung Sehun terkocok lebih kuat. Dia gerah dengan kata maaf Krystal yang tidak bisa mengubah apa-apa. Tidak rasa sakitnya, tidak juga kenyataan bahwa dia bersama Kai.

Sehun benci karena Krystal membohonginya. Sehun merasa jengah mengingat seluruh kata-kata gadis itu selama ini. Sehun muak karena Kai bahkan tidak merasa bersalah. Hanya memandangnya dengan santai seolah berkata “lihat aku sudah memiliki gadis ini.”

Hati Sehun sakit dan seperti akan hancur (sama sekali tidak masuk akal).

Ponselnya berbunyi lagi dan Sehun tersadar kalau ponsel itu sudah diam selama beberapa menit. Dia menatap layar ponselnya dengan malas lagi mengetahui kalau yang meneleponnya masih tetap orang yang sama.

Tapi napasnya tercekat kemudian, dan dia hampir tersedak air matanya sendiri melihat bukan lagi Krystal tapi nama Kai berkedip-kedip di layar ponselnya. Dan Sehun merasa ingin bersembunyi, melindungi hatinya dari seluruh kata-kata kasar yang mungkin akan dilontarkan orang itu. Tapi ibu jarinya secara refleks menerima panggilan Kai dan dia menggunakan punggung tangannya untuk menghapus sisa-sisa air mata di ujung matanya.

“Kenapa sangat lama mengangkat teleponnya?” sembur Kai langsung begitu Sehun menempelkan ponsel di telinganya.

“A..aku..”

“Bertingkah seperti idiot. Yah aku sudah tahu itu,” potong Kai cepat. Sehun dapat mendengar Kai bosan dan ingin segera mengakhiri panggilan itu. Tapi dia tetap berbicara. “Dengar aku meneleponmu bukan karena apa-apa tapi Krystal memaksa aku melakukannya karena dia merasa sangat bersalah. Sedangkan aku tidak cukup peduli.”

Sehun tidak menjawab. Dia sudah tahu itu. Dia membiarkan Kai bermonolog sedangkan dia diam-diam menelan air matanya dan seluruh kata-kata Kai. Persetan dengan melindungi hati. Dia sudah terlalu sering mendengar cacian dari orang ini. Dan kalau memang hanya itu yang bisa didapatkannya untuk bisa mendengar suara Kai, maka dia akan menerimanya.

“Aku sudah lelah denganmu dan perasaan gay mu. Sudah tidak bisa lagi menahannya. Kuharap kau berhenti melakukan ini padaku Sehun. Maksudku, biarkan aku bahagia dengan Krystal karena demi Tuhan aku sangat mencintainya dan bukan kau.”

“Ya.” Sehun memaksa menjawab dengan suara serak.

“Aku minta maaf karena sempat membuatmu berharap. Waktu itu aku masih naïf dan terlalu penasaran dengan apa yang akan terjadi kalau sedikit menanggapi perasaanmu tapi kau berubah menjadi terlalu serius dan.. dan… ini.. aku..”

“Aku mengerti. Tidak perlu kau lanjutkan.” katanya membantu Kai. “Kau tidak perlu memikirkanku.”

“Aku memang sama sekali tidak memikirkanmu. Krystal yang memaksaku melakukan ini. Dan kau harus berbicara padanya. Minta maaf karena sudah membuatnya khawatir. Angkat teleponnya dan jangan melakukan hal bodoh. Mengerti?”

Sehun menelan ludahnya dan mengangguk pelan meski dia tau Kai tidak bisa melihatnya. Kai langsung mematikan sambungan telepon detik berikutnya tanpa menunggu Sehun menjawab.

Hati Sehun sakit tapi dia yang harus meminta maaf kepada Krystal. Kata-kata Kqai melukainya lebih dari yang bisa dibayangkan oleh siapapun. Tapi dia sudah bertahan dengan itu selama entahlah mungkin tiga tahun atau empat atau lima atau lebih lama lagi.

“Hanya orang bodoh yang jatuh cinta denganmu.” Bisiknya pada ponsel yang sudah tidak tersambung dengan siapa-siapa lagi. Dia hanya berpura-pura kalau Kai sedang mendengarnya. “Dan aku adalah orang bodoh itu.”

Sehun tidak tahu kenapa orang menyebut ini patah hati. Karena hati tidak bisa patah. Sebaliknya dia merasa seperti seluruh tubuhnya mati rasa dan semestanya runtuh bersama rumah di bukit yang diimpikannya.

-fin-

A/N:

I know i know. Yaoi. Maaf buat yang gasuka. Ugh can’t help it. Aku akhir-akhir ini lagi seneng banget sama si Troye Sivan dan ficlet ini terinspirasi dari lagu “Fool” nya dia. Lagunya keren dan emosional banget 😥 Tapi kalau buat yang gasuka gay, jangan liat mv nya hehe. Anyway tinggalin komentar di kolom di bawah ya 🙂 It usually made my day 🙂 🙂 🙂

Lots of Love

Mi

Advertisements

9 thoughts on “SHATTERED

  1. haha aq kagett bacanya beneran hahaha pantes kok castnya diatas sehun kai. bisa ya say bkin yg keak gini dr awal baca itu oh pnasaran ni bagus ni ceritanya bahasanya juga eh ujung2nya 🙂
    udah la hun ma jooyoung aj hahaha
    dtunggu nice story kmu yg linnya:)

  2. ka makasih loh sukses bikin aku shock hehehehehe Serius aku kaget banget\(-_-)/
    aku bener2 mikirnya itu kalo Sehun itu suka sama Krystal… ternyata Suami Ku /plak/ yang Sehun suka hehehehe keren ka…

  3. Saya kira Krystal yang bermain di belakang Sehun-_- ternyata Kaiiii (or maybe I just did not really pay attention…). Rasanya gak enak merasa bersalah padahal kamu enggak benar-benar salah.

  4. Gue kira Krystal ketauan ngkhianatin Sehun ehhh malah Sehun gay ama Kai, dan ntu udah terlanjur dalem banget perasaannya ama Kai… Bener2 kejutan Sehun bisa suka ama Kai + cemburu (sakit hati lebih pas) wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s