Pupus

28d651f6b8b31f293ce885c2726145ac

An original Fic

by Tamiko

buat Thea

.

.

A/N : Hai Thea, ini original fic requestan kamu. Sorry it took me too long to post this. Dan jangan marah ya kalo fic ini ternyata gagal, maksa  banget dan gadapat feelnya 😦 Here you go.

.

.

Luisa menutup mata dengan gusar. Memblokade seluruh penglihatannya dari bias-bias cahaya remang bulan yang membayangi di balik jendela kamarnya. Dia sengaja membiarkan seluruh kamarnya tanpa penerangan untuk mendukung kegalauan hatinya. Senang rasanya diam dalam cahaya minim seperti ini dan cahaya bulan yang begitu lemah membayangi corak abstrak ubin kamarnya seperti air mata. Seperti sedang turut menangisi rindunya pada pemilik sebuah nama.

“Kamu itu egois banget Lu, aku udah gak kuat.”

Kata-kata Erik seminggu lalu masih saja bertahan dengan keras kepala di kepala Luisa, menyebalkannya lagi kata-kata itu bukan hanya diam dengan tenang pada satu titik otak gadis delapan belas tahun itu melainkan mereka sudah melakukan agresi besar-besaran, menginvasi seluruh bagian otaknya. Seperti sel-sel kanker yang menyebar dengan cepat.

Sudah selama seminggu pula Luisa berusaha membolak-balik seluruh isi otaknya. Mencoba menafsirkan kata egois yang menjadi inti dari kalimat marah Erik minggu lalu. Lalu ekspresi sedih yang mendominasi wajah mantan kekasihnya itu. Luisa betul-betul penasaran sisi mana dari dirinya yang sudah dengan egois melukis kesedihan di wajah laki-laki favoritnya itu. Sampai-sampai Erik memutuskan untuk mengakhiri hubungan pertemanan mereka yang sudah hampir mencapai tujuh tahun.

Luisa menghela napas kasar saat terbayang lagi dengan perbincangan konyol terakhir mereka itu. Sepanjang siang Erik menekuk wajah dan menolak minum mocca float dinginnya sebelum Luisa membiarkannya selesai berbicara.

“Kuharap kamu bisa maklum Lu,” kata Erik sambil menatap pada meja merah di depannya. Luisa ingat meja itu penuh dengan dua burger, satu ayam, dan dua mocca float yang tidak satu pun dijamah. Lalu Erik kembali melanjutkan bicaranya “Aku udah capek, ayo kita akhiri ini.”

Luisa hanya diam. Satu sisi dirinya ingin berteriak ‘kamu capek di sisi mananya sih?’ sedangkan sisi yang lain ingin terus bungkam karena tahu begitu dia membuka mulut, lidah dan pita suaranya pasti akan mengkhianati dirinya. Luisa tidak ingin menjadi pihak yang menyedihkan di kisah ini. Jadi dia membiarkan Erik terus menumpahkan seluruh keluh kesahnya tentang betapa egois Luisa — hanya itu satu-satunya yang dapat ditangkap gadis itu dari monolog panjang Erik — dan mengangguk keras kepala saat Erik bilang tidak ingin bertemu dengannya lagi. Padahal dalam hati dia ingin menolak mentah-mentah ide bodoh Erik tapi egonya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Sekali lagi, Luisa tidak ingin menjadi pihak yang menyedihkan.

Lucu bagaimana mudahnya Luisa setuju untuk tidak berhubungan dengan Erik lagi sore itu. Dengan cekatan mereka berdua saling menghapus kontak BBM dan Line di smartphone masing-masing. Dan setelah itu Erik langsung berlalu meninggalkan Luisa bersama seluruh makanan yang belum dijamah. Luisa hanya mengedikkan bahunya tidak acuh.

Hubungan Erik dengan Luisa adalah sesuatu yang cukup rumit kalau boleh jujur. Teman-temannya sangat suka menyinggung hal itu setiap kali. Dan Luisa tidak pernah menyangkal. Mereka memang bukan teman biasa. Keduanya pertama bertemu saat Sekolah Menengah Pertama. Erik berusia setahun lebih muda dari Luisa. Entah bagaimana mereka menjadi teman akrab. Saat Luisa memasuki Sekolah Menengah Atas mereka mulai berpacaran. Meski canggung di awal tapi mereka cukup kompatibel satu sama lain dan jujur Luisa sangat menyukai hubungan itu. Lalu mereka putus begitu Erik juga masuk SMA. ‘Ah aku hanya ingin fokus dengan studiku dulu,’ kilah Luisa. Dan Erik memaklumi alasan yang diberikan Luisa. Mereka tidak berhenti berteman setelah itu.

Erik adalah tipe mantan kekasih yang berubah menjadi sahabat baik. Meski tidak lagi mengucapkannya secara gamblang, Luisa tahu kalau Erik masih menyimpan rasa padanya. Tapi Luisa, well Luisa adalah Luisa. Luisa adalah gadis yang memutuskan Erik secara sepihak karena menemukan laki-laki lain yang lebih baik — menurut dia. Luisa adalah gadis yang dengan sengaja mengabaikan ketulusan Erik yang dengan kedok semua kebaikan-kebaikannya. Luisa adalah gadis yang menangis pada Erik saat dia sedang patah hati setahun lalu tanpa menghiraukan kenyataan betapa hati Erik jauh lebih hancur melihat dia menangisi laki-laki lain. Luisa adalah gadis paling jahat di dunia versi Erik. Tapi Erik tetap menyayanginya dengan tulus.

Semua perlakuan Luisa dulu kepada Erik tidak pernah menjadi masalah sebelumnya, lalu kenapa kali ini Erik datang kepadanya, menyebut Luisa egois dan memutuskan pertemanan mereka secara permanent? Siapa yang jahat sekarang?

Luisa menghela napas lemah. Terlalu lemah untuk ukuran seorang Luisa yang kata semua temannya adalah perempuan kejam tanpa hati. Tidak. Ini rasanya seperti bukan dirinya. Bergelung lemah di bawah selimut. Dengan cahaya lampu sengaja dipadamkan dan menatap sedih kepada bulan sabit di luar jendelanya. Rasanya seperti ada dalam ftv kacangan yang paling dibenci Luisa. Ini bukan dia.

Dulu Erik sangat senang berkata “Aku mencintaimu sampai bulan dan kembali lagi ke bumi.”

Gombalan paling receh abad ini dan Luisa bukannya tidak tahu kalau Erik hanya menerjemahkan kutipan bahasa Inggris yang dia dapat dari internet. Luisa selalu memutar bola mata malas mendengar kata-kata Erik itu, berusaha menahan senyum yang memaksa ingin mengembang di wajahnya. Karena memangnya perempuan mana yang tidak senang mendengar kata-kata seperti itu?

Sekarang Luisa merindukan candaan Erik dan kata-kata gombalnya. Luisa ingin menelepon Erik pada malam-malam dia ketakutan seperti yang selalu mereka lakukan dulu. Dia ingin bisa mengirim satu pesan saja dan Erik akan menghujaninya dengan puluhan pesan yang sarat perhatian.

Kata orang kau tidak menyadari sesuatu yang kau miliki sampai mereka hilang . Luisa ingin mengutuk siapapun yang menciptakan kalimat itu. Karena sekarang dia persis merasa demikian. Seminggu setelah hidupnya tidak lagi penuh dengan Erik dan candaan-candaan konyolnya, Luisa berubah menjadi begitu rindu dengan kehadirannya. Dan malam ini adalah puncaknya. Seandainya dia tidak menghapus kontak Erik dari smartphonenya sore itu, pasti sekarang dia sudah mendengar laki-laki itu di ujung lain telepon. Sama-sama sedang memandangi bulan dari kamar masing-masing dan Luisa mungkin tidak perlu mengeluarkan air mata malam ini saat menatap bulan yang seperti turut menangisi rindunya.

-fin-

Advertisements

10 thoughts on “Pupus

  1. Ahoyy! Ini ff tergalau yang pernah ku baca XD ini bagus banget kak, aku tersentuh karena aku lg frustrasi … dan terus… aku lagi bingung kenapa lepiku tiba-tiba main scroll down sendiri TT ini gak buruk kok kak, ini udah kewren 😀 terima kasih banyak loh Kak Ami ^^ akan ku bookmark ‘-‘)/

      1. twitter bisa, whassap juga bisa /kalau kak Ami masih punya ;-;/

        oh iya… itu privasi XD lagi cari konsep baru sebelum buka blog lagi :3 kecuali aku akses. Kak Ami kepo kah? XD

  2. aduh.. aduh… aduh…
    kakak update segini banyaknya sejak hari kapan dan aku baru tau huhu ;(
    tinggalin jejak dulu lah ya kak, mataku ngantuk maksa baca malah kek baca koran hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s