Balada Penulis Labil

tumblr_static_dbo40qtqwkggcokws4scssos4_640_v2

The fact is, I don’t know where my ideas come from. Nor does any writer. The only real answer is to drink way too much coffee and buy yourself a desk that doesn’t collapse when you beat your head against it.-Douglas Adams

Menjadi penulis itu lucu. Pada satu waktu aku menulis puluhan ribu kata dalam satu hari. Dan di waktu lainnya, tidak satu huruf pun berhasil tertuang dalam jangka satu bulan.

Selama delapan tahun menulis — tanpa perlu menyebut tiga tahun yang kuhabiskan membuat fragmen-fragmen konyol di sela istirahat seraya makan dadar gulung di bangku Sekolah Dasar — aku menonton bagaimana caraku menulis dan memandang segala sesuatu berubah.

Kalau kubaca lagi setiap goresan tinta di lembaran-lembaran yang sengaja kusobek dari buku bergaris tiga puluh lembar tempat aku seharusnya menuliskan PR ku, rasanya seperti sedang mempermalukan diri sendiri saja. Mereka membuatku merinding sampai ingin mencakar dinding.

Tapi terkadang itu juga mengundang tawa. Karena mereka mengingatkanku akan seorang gadis polos di masa lalu yang melihat dunia ini dengan cara yang terlalu berbeda dengan visiku sekarang. Imut sekali kalau boleh menuturkan pendapat berlebihan.

Yang tidak kalah menggelitik bagiku adalah fakta bahwa setiap kali aku sudah menelurkan sebuah tulisan baru dan mencoba membeta, aku selalu membenci tulisan itu. Itu selalu menjadi tulisan paling buruk yang pernah kuhasilkan —versi aku tentunya. Tapi kemudian aku kembali menghasilkan naskah baru dan tulisan yang dulu buruk tiba-tiba menjadi lebih bagus di mataku. Muncul tulisan baru yang kuanggap sampah. Itu seperti siklus yang tidak ada habisnya.

Aku bukan tipe penulis yang mau membaca tulisanku sendiri, karena mereka terasa sangat menakutkan bagiku. Biasanya setelah selesai kutulis kisah baru yang kata orang unik dan tidak biasa —meski sampai sekarang aku masih gagal menemukan sisi keunikan yang digosipkan para pembaca ke di kolom komentar— aku akan menutup layar komputer hingga berhari-hari. Berusaha mengabaikan fakta bahwa tulisankulah yang sedang dibanjiri komentar ini.

Biasanya aku kembali berbulan-bulan kemudian. Membaca ulang tulisan itu. Ngeri membaca setiap kata. Dan membenci diriku yang sudah menulisnya. Namun lagi, aku adalah manusia rakus. Komentar-komenar dan pujian yang dilayangkan untuk tulisan-tulisan itu membuatku limbung, kehilangan kontak dengan gravitasi. Dan setiap kali aku menginginkan lebih. Lalu aku akan kembali menulis. Adegan demi adegan, percakapan demi perakapan, mengkonsumsi terlalu banyak kopi untuk bisa terjaga menyelesaikan satu lagi fiksi untuk orang-orang yang bahkan tak pernah kutahu rupanya.

Kesulitan yang selalu kualami di tengah menulis adalah betapa mudahnya aku terdistraksi. Aku selalu begitu fokus dengan fakta-fakta minor yang  kurang relevan. Seperti “Hei nama apa yang cocok kuberi untuk karakter ini” lalu aku menghabiskan seharian di internet membaca nama-nama bayi dan artinya. Atau terkadang “Bunga apa ya yang paling cocok untuk disematkan di rambut gadis ini” dan kembali berjam-jam yang seharusnya bisa kuhabiskan dengan produktif terbuang sia-sia di internet, yang paling lucu adalah saat aku berusaha mencari merek mobil yang bagus untuk dikendarai karakterku. Tidak ingin menggunakan volvo, lamborghini dan ferrari yang terlalu overrated, lagi-lagi aku membuka sampai puluhan tab pencarian untuk membaca spesifikasi kendaraan beroda itu ditambah harga, desain interiornya, siapa yang pertama kali merancang mobil itu dan siapa kepala perusahaannya. Padahal aku hanya menggunakan referensi itu dalam dua kalimat di cerita yang kukerjakan. Pffft.

Karena itu jika hanya berkaca pada diriku sendiri, aku selalu berpendapat bahwa penulis itu adalah orang-orang lucu. Tapi lucu yang aneh. Selayaknya komedian yang tidak bisa menghibur satu nyamuk pun dalam ruangan. Tukang sandiwara yang bersembunyi di balik keyboard dan pulpen.

Dan ngomong-ngomong sampai sekarang aku masih tidak berhenti bertanya “Kenapa aku menulis?”


Hanya sedikit curhat ringan dari penulis yang sedang merasa hilang arah. I really need to get this out of my chest.
Advertisements

One thought on “Balada Penulis Labil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s